TUTUR RATU DAHA TUA. (Untuk Memperjuangkan Air Bangli Dan Nguwangun Sat Kherti Jagat Bali)

banner 468x60

Oleh : Jro Somya

Mohon izin sebelum untuk menghaturkan tulisan agar diberikan kepatutan dalam rasa Srdha Bhakti yang dalam, bersumber dari Tutur (Sastra Tan Patulis dan beberapa Sastra Patulis).

Suggra Pangampeg Ratu Daha Tua Mapalinggih Ring Gunung Wangun Urip, merupakan salah satu Catur Purusa keturunan Sang Hyang Pasupati, sebagai Penguasa Air.

Ratu Daha Tua nama lain dari Daha Nu, dan secara lisan disebut DANU (DAha NU)

Karena Ida Nyukla Brahmacari (tidak kawin) beliau disebut Daha NU atau Daha Tua, walaupun bereujud perempuan, namun Ida berstatus PURUSA.

Beliau adalah penguasa Air
sebagai yang berstana di Gunung Wangun Urip (membangun kehidupan), sehingga nama lain gunung Wangun Urip sebagai gunung air yang disebut juga dengan Pucak Tegeh Kahuripan atau Pucak Tegeh, Atau Pura Pucak Penulisan karena tempatnya diatas Ratu Gede Penyarikan atau Ratu Gede Penulisan.

TEMPAT DIPUTUSKAN KASUAKAN ATAU SUBAK.

Di bawah Pucak Tegeh terdapat Palinggih Ratu Gede Penyarikan atau Ratu Gede Penulisan tempat di mana KASUAKAN diputuskan yang kemudian disebut dengan SUBAK. Sebagai tempat dan mekanisme pembagian air di seluruh Bali.

Untuk membuka lahan dan meminta air, haruslah meminta Panugrahan kepada Ratu Daha Tua dan Ratu Gede Penyarikan, muncullah beberapa panugrahan sumber mata air seperti di Muncan, Sulahan, Catur, KembangSari (Sang Telaga) dan beberapa desa di Bali lainnya.

PUSAT AIR DAN PEMBAGIANNYA KE SELURUH BALI.

Sebagai Gunung Air di Puncak Tegeh Kahuripan itulah terdapat Gedong Puser Tasik (sebuah sumur di Pucak Gunung) sehingga juga disebut sebagai pusering jagat atau goa metangkeb (versi Tuluk Biyu).

Untuk masyarakat Bali Selatan, airnya dialirkan melalui Tukad Ayung yang mengalir kemudian sampai Tukad Badung dan Karang Suwung.

Untuk masyarakat Bali bagian utara airnya dialirkan melalui Tukad Daya yang mengalir kemudian sampai ke Bungkulan.

Sedangkan Bali bagian barat, sumber mata air berasal dari Batukaru, Puncak Mangu, Puncak Sari dan beberapa gunung pesemetonan Gunung Merapi dan Gunung Mahameru.

Untuk masyarakat Bali bagian timur,
airnya alirkan melalui Tukad Gamongan dan Tukad Kutuh.

Desa-desa utama yang menjadi bagian pelaku dan penyangga spiritual kemudian masuk dalam Bebanuan Puncak Penulisan, yang kemudian penjaganya disebut dengan GEBOS DOMAS.

GEBOG DOMAS yang kemudian dibagi menjadi 4 (empat) penyangga yang disebut dengan Domas Satak (Gebog Satak Sukawana, Gembok Satak Kintamani, Gembok Satak Selulung, dan Gebog Satak Bantang.

Sedangkan ada 10 (Sepuluh) Desa Bebanuan Ratu Tegeh ditugaskan untuk mengempon Bale Agung Desa Sukawana yang disebut Metatadan Dasa Desa, sebab Ratu Pucak Dilinggihkan di Meru Bale Agung Sukawana. Secara Praktek
Dasa Desa itu adalah 9 Cucukan yaitu Sembiran, Awan, Serai, Maniklyu, Daup, Batih, Les Penuktukan, Pacung, Tejakula, dan 1 Titikan dari Madenan.

RATU DAHA TUA SEBAGAI PENJUAL AIR.

Air di Pucak Tegeh dan Pesemetonan Gunung Merapi Dan Gunung Semeru yang ada disekitarnya lalu ditampungkan di Segara Gunung lebah (Danau Batur sekarang) yang kemudian disebarkan oleh Ida dengan cara dijual di daerah-daerah yang memerlukan air.

Dalam menjual air, Ratu Daha Tua (Ratu Daha NU (Danu) menciptakan pusat air di Belandingan sehingga beliau juga meparab (bernama) Ratu Manik Mas Muncar.

Ida kemudian Malih rupa (menyamar) sebagai wanita penjual air yang berpenampilan buruk, lalu kemudian menjual air ke Bali Timur,

Dalam perjalanannya ke Munti Gunung, Ida dicibir ditolak seperti gegendong (pengemis), sehingga Desa tersebut kering kesumpah untuk menjadi gegendong (pengemis).

Turun ke bawah beliau ke Tianyar namun tidak ada yang beli airnya sehingga daerah itu menjadi kering.

Perjalanan dilanjutkan ke pesisir Utara tapi tidak ada yang beli sampai akhirnya di Desa Les Penuktukan. Desa Les Penutupan membeli air dengan Aketeng (sehingga desa tersebut akhirnya menjadi bebanuan Puncak Penulisan dengan kewajiban aturan pujawali di Bale Agung Desa Sukawana 20 tahun sekali.

Lalu perjalanan dilanjutkan di Tejakula membeli air dua keteng sehingga masyarakat Tejakula harus ngaturang Pujawali di Bale Agung Sukawana 10 tahun sekali.

Ketika sudah tidak ada yang membeli airnya, airnya pun ditumpahkan di Air Sanih.

Untuk di wilayah Bali Timur selebihnya sumber air juga bersumber dari Pura Antapsai yang juga pesemetonan dari Gunung Merapi dan Gunung Mahameru.

Tetamanan Ratu Daha Tua, berada di Batan tingkat (wilayah tabu, dulu sinarata dan yeh mampeh) sehingga parab Ide disana adalah Ratu Manik Mas Mampeh atau Ratu Manik Mas Membah.

Segara gunung lebah ( air laut di gunung dibawah) dalam pembangan bahasa kemudian disebut danau, sehingga dalam hulu (atas) danau, parab Ida juga disebut Ratu Dewi Danu.

Yang kemudian kawasan tersebut lebih dikenal dengan nama Batur sebagai penugrahan dari raja Batur Enggong atau Waturenggong.

banner 336x280