Denpasar (Baliwananews.com) — Dampak pandemi COVID-19 pada 2019–2020 menjadi titik balik penting bagi pembangunan ekonomi dan lingkungan di Bali. Lumpuhnya sektor pariwisata memaksa ribuan pekerja kembali ke desa dan beralih ke sektor pertanian, sehingga pemerataan pembangunan serta pemulihan ekosistem Bali menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Merespons kondisi tersebut, inisiator Agro Learning Center (ALC) Cekomaria Denpasar bersama sejumlah praktisi dan penggiat pertanian menggelar dialog strategis bersama pengusaha asal Buleleng, Gusti Ngurah Anom, yang akrab disapa Ajik Krisna, pada akhir tahun 2020.

Dalam pertemuan informal di kediamannya di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, Ajik Krisna yang saat itu menaungi lebih dari 2.350 tenaga kerja di bawah Krisna Nusantara Group—menekankan pentingnya reorientasi pembangunan Bali agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pariwisata.
“Pembangunan Bali ke depan memerlukan keseimbangan antara Bali Selatan dan kawasan lainnya. Sektor pertanian dalam arti luas harus menjadi prioritas, didukung daya dukung lingkungan yang sehat, mulai dari reforestasi hutan, perlindungan danau dan sungai, hingga penanggulangan krisis air,” ungkap gagasan utama yang muncul dalam pertemuan tersebut.
Salah satu poin substansial dalam diskusi itu adalah gerakan “Tanam Bambu Sama Dengan Tanam Air.” Penanaman pohon penangkap air, seperti beringin dan bambu, di kawasan tandus dinilai sebagai langkah konkret untuk memulihkan ekosistem serta berpotensi menciptakan sumber mata air baru di Bali.
Gagasan ekologis tersebut langsung mendapat respons dari Ajik Krisna. Pengusaha Krisna Oleh-Oleh Bali itu menyatakan komitmennya menginisiasi gerakan Kampung Bambu sekaligus mewariskan kawasan Hutan Bambu berkelanjutan di Bali Utara.
Inisiatif ini diharapkan menjadi model restorasi lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat desa, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi lokal di luar sektor pariwisata. Agro Learning Center (ALC) di Cekomaria, Denpasar, sendiri berfungsi sebagai wadah kolaborasi bagi akademisi, praktisi, dan penggiat pertanian untuk mengembangkan inovasi agribisnis serta memberdayakan generasi muda desa.
Naluri penyelamatan alam membuat Ajik Krisna segera menindaklanjuti gagasan tersebut. Sambil terus mempelajari potensi bambu, ia dan timnya mencari lahan kritis di Buleleng yang dapat dikembangkan menjadi kawasan kampung bambu.
Pencarian itu berujung pada kawasan tandus di Desa Dencarik, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Lahan tersebut kini menjadi basis inisiatif pembentukan kelompok pembudidaya bambu Bamboo Forest North Bali, yang dideklarasikan pada 26 Oktober 2026 di Krisna Osea Park, Desa Temukus.
Dalam beberapa pertemuan yang dipantau penulis, Ajik Krisna menegaskan ingin menjadikan kampung bambu tersebut sebagai legacy bukan sekadar proyek bisnis yang mengejar keuntungan. Ia ingin mewujudkan manfaat berlapis: bagi alam, sosial budaya, dan pada gilirannya ekonomi masyarakat sekitar.
Ajik Krisna juga diketahui telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare untuk penanaman hutan bambu sebagai bagian dari upaya pelestarian alam dan pencegahan abrasi di Buleleng.
Kampung bambu di Dencarik diharapkan tidak hanya menghadirkan pepohonan, tetapi juga menjadi ruang belajar, pusat pemberdayaan, dan simbol kolaborasi antara dunia usaha, masyarakat desa, serta penggiat lingkungan.
Bagi Ajik Krisna, warisan terbesar bukan semata bangunan atau bisnis, melainkan hutan yang hidup, air yang terjaga, dan ekonomi desa yang mandiri.
Let’s Save Bali. (bas)










