Kurikulum Berbasis Cinta Tanamkan Nilai Spiritual dan Kemanusiaan Sesuai konsep Tri Hita Karana

banner 468x60

Denpasar (Baliwananews.com) – Penyusunan Kurikulum Cinta pada Widyalaya yang dibuka Direktur Pendidikan Hindu di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementerian Agama RI. Prof. I Ketut Sudarsana merupakan upaya strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran sekaligus menguatkan nilai-nilai karakter melalui pendidikan yang berlandaskan kasih sayang, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Kurikulum ini mengintegrasikan nilai spiritual dan kemanusiaan yang sesuai dengan konsep ajaran Tri Hita Karana yang sangat penting dalam pendidikan Hindu.

Hal tersebut dikemukakan oleh Dr. Drs. I Nyoman Sarjana, M.Ikom, Wakil Bidang Pendidikan DPN PPPI disela-sela kegiatan Penyusunan Kurikulum Cinta pada Widyalaya dan Penyusunan Panduan Kegiatan Keagamaan Hindu pada Sekolah Rakyat, di Hotel Quest Denpasar, Jum’at (29/11/2025).

“Kurikulum ini bertujuan membentuk karakter generasi muda yang religius, toleran, peduli sosial, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan,” kata Nyoman Sarjana.

Menurut, Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Jenjang Madyama Widyalaya dan Utama Widyalaya (MGMP MW-UW) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, I Wayan Mertayasa, S.Pd., M.Pd. bahwa Kurikulum Berbasis Cinta yang diluncurkan oleh Kementerian Agama RI mengedepankan nilai-nilai cinta kasih yang menanamkan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sebagai inti spiritual Hindu.

Penyusunan kurikulum iniyang dibuka Kasi Penda Hindu, I Ketut Sudarsana itu juga dilengkapi dengan pelatihan bagi pendidik Hindu agar dapat mengimplementasikan nilai tersebut dalam proses pembelajaran dan pengabdian masyarakat secara efektif.

“Dalam konteks penyusunan Hindu, kurikulum ini menyelaraskan pendidikan dengan nilai-nilai dharma dan spiritualitas yang mendalam. Guru memegang peran penting tidak hanya sebagai pengajar materi, tetapi juga sebagai pembina moral dan spiritual siswa, mengajarkan ajaran Tri Hita Karana yang mencakup hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan manusia (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan),” kata Wayan Mertayasa.

Berbagai aktivitas pendukung seperti sosialisasi kurikulum, pelatihan guru, dan penguatan budaya akademik berbasis kasih sayang juga dijalankan untuk memastikan implementasi kurikulum berjalan optimal.

“Kurikulum ini diharapkan mampu membangun generasi Hindu yang unggul secara spiritual, intelektual, dan sosial, serta menjadi contoh pendidikan karakter berbasis cinta dalam sistem pendidikan nasional. Secara keseluruhan, penyusunan Kurikulum Cinta pada Widyalaya dan penyusunan kurikulum Hindu ini merupakan terobosan pendidikan keagamaan di Indonesia yang menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas Hindu melalui pendekatan yang humanis dan berkelanjutan,” pungkas Mertayasa. (hd)

banner 336x280