Gubernur BIDenpasar (baliwananews.com) – Rupiah melemah 1,03% mencapai Rp17.640/USD pada 18 Mei 2026, melampaui psikologis Rp17.000. BI percaya akan menguat kembali ke Rp16.500/USD mulai Juli 2026.
Dikutip dari pukulenam.id, Rupiah mencapai level terlemah sepanjang sejarah pada Senin (18/5/2026) dengan melemah 1,03% ke posisi Rp17.640/USD. Pelemahan ini membuat rupiah tembus area psikologis di atas Rp17.000/USD, menjadi posisi penutupan paling buruk yang pernah tercatat.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan ada dua pemicu utama: faktor fundamental dan teknikal. Secara fundamental, rupiah sebenarnya undervalued (dinilai terlalu rendah) dibanding kondisi ekonomi riil Indonesia. Sementara faktor teknikal meliputi gejolak geopolitik di Timur Tengah yang bikin harga minyak meroket ke USD 111 per barel, plus kenaikan inflasi AS yang membuat Fed tidak turunkan suku bunga.
Kenaikan hasil obligasi AS membuat investor cabut dana dari pasar emerging markets menuju AS. Di sisi lokal, ada faktor musiman seperti biaya haji, pembayaran dividen, dan utang perusahaan yang juga menekan rupiah. Kombinasi tekanan internal dan eksternal ini menciptakan badai sempurna buat mata uang kita.
BI yakin rupiah akan menguat kembali ke kisaran Rp16.500/USD pada rata-rata tahun 2026, dengan rentang Rp16.200-Rp16.800/USD, terutama mulai Juli 2026 ketika kebutuhan valuta asing menurun. Ketua Komisi XI DPR mengingatkan ini adalah komitmen politik yang harus dijaga, menekankan rupiah perlu stay di level Rp16.000 ke depannya untuk mencapai target tersebut.










