Oleh : I Nyoman Baskara
Kita tak pernah bosan bicara tentang Subak.
Tentu ada banyak alasannya, mengapa demikian. Keberadaan Subak, sama terkenalnya dengan eksistensi Bali. Organisasi tradisional Bali ini adalah lembaga yang mengurusi manajemen pertanian Bali. Mulai dari sistem irigasi yang berkeadilan, sampai pada musim tanam sesuai iklimnya. Hingga kini, prinsip prinsip dasar yang terkandung di dalam Subak, masih bertahan dalam pembangunan pertanian di Bali. Namun demikian, setiap tahun lahan Subak terus alami penyusutan. Terlebih lebih di daerah Bali selatan, dimana sektor pariwisatanya tumbuh dan berkembang sedemikian pesatnya. Bahkan, terkesan tak terkendali.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, sejak tahun 2017, luas sawah di Bali menyusut dari 78.626 hektar menjadi 68.078 hektar pada kondisi terkini. Daerah daerah yang paling deras alami penyusutan luas sawah tersebut adalah Badung, Denpasar, Gianyar dan Tabanan.
Tekanan alih fungsi lahan tersebut diperparah oleh krisis regenerasi petani, menjadi ancaman sangat serius bagi Bali. Fakta diatas sudah pasti berbanding lurus dengan ancaman akan keberlangsungan Subak serta ketahanan pangan Bali.
Sebagai regulator, mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah kabupaten kota se Bali, harus memberikan atensi khusus terhadap permasalah tersebut.
Kebijakan yang berpihak nyata bagi keberadaan Subak, perbaikan nasib petani, regenerasi petani, adalah keniscayaan. Mengabaikan hal tersebut, sama artinya dengan menelantarkan masa depan Bali yang dikenal dengan budaya pertanian.
Kian memudarkan budaya agraris tersebut, berarti terancamnya peradaban. Dampaknya pun, amat sangat kompleks.
Merespon, kian suramnya kondisi Subak dan nasib petani Bali, penulis menyarankan kepada Gubernur Bali, Walikota dan Bupati se Bali, dibersamai oleh para ahli pembangunan pertanian, untuk merumuskan kebijakan dan program yang efektif.
Keberadaan 800 gapoktan Simantri di seluruh Bali, sangat penting untuk direvitalisasi. Apapun kemudian nama programnya kemudian tidaklah masalah. Yang terpenting adalah terjadi penguatan terhadap keberlanjutan Subak, menahan laju alih fungsi lahan serta mewujudkan ketahanan pangan Bali. Penulis yakin, cara ini akan melahirkan semangat baru bagi Pekaseh dan Prajuru Subak, serta angin segar bagi komunitas abdi bumi. Let’s save Bali. (hd)










