Denpasar (Baliwananews.com) – Tesla menarik lebih dari 2 juta mobil listrik mereka di Amerika Serikat (AS) akibat ditemukannya kerusakan pada sistem pengemudinya (Autopilot). Tesla akan memasang perlindungan baru dalam sistem Autopilotnya dan mengirimkan pembaruan perangkat lunak untuk memperbaiki masalah tersebut.
Tesla pada Rabu (13/12) mengatakan pihaknya menarik lebih dari 2 juta mobil listrik mereka di Amerika Serikat (AS) akibat ditemukannya kerusakan pada sistem pengemudinya (Autopilot). Perusahaan menyatakan perlu memasang perlindungan baru dalam sistem Autopilotnya dan menarik hampir semua kendaraan yang ada di AS sejak fitur Autopilot diluncurkan pada 2015.
Dalam pengajuan penarikan (recall) Tesla, disebutkan bahwa kontrol sistem perangkat lunak Autopilot tidak cukup untuk mencegah penyalahgunaan pengemudi dan dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Autopilot dimaksudkan untuk membantu kemudi, akselerasi, dan pengereman. Namun, terlepas dari nama dan segala automisasinya, mobil tetap tidak dapat dioperasikan tanpa peran pengemudi. Ditariknya mobil dari pasar dilakukan setelah regulator keselamatan federal menyebutkan ada masalah dan risiko keselamatan pada Tesla.
Tesla akan mengirimkan pembaruan perangkat lunak untuk memperbaiki masalah tersebut. Meskipun, pembaruan terjadi secara otomatis dan tidak memerlukan kunjungan ke dealer atau bengkel, prosese tersebut tetap disebut oleh regulator sebagai recall. Pembaruan akan memasukkan kendali dan peringatan tambahan guna mendorong pengemudi untuk tetap bertanggung jawab terhadap jalannya kendaraan saat fitur Autopilot diaktifkan.
Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (NHTSA) menghabiskan lebih dari dua tahun menyelidiki apakah kendaraan yang diproduksi oleh produsen mobil listrik milik Elon Musk itu cukup menjamin keselamatan pengemudi. NHTSA meninjau 956 kecelakaan yang awalnya diduga terjadi akibat menggunakan Autopiloot.
Melansir CNBC, pejabat Administrator NHTSA, Ann Carlson memuji Tesla karena menyetujui penarikan tersebut. Carlson mengatakan badan tersebut membuka penyelidikan keselamatan pada Agustus 2021 ketika mereka terus mendengar banyak kasus kecelakaan fatal yang melibatkan penggunaan Autopilot. Penyelidikan tersebut pun akan tetap terbuka seiring pihaknya memantau keefektifan pembaruan Tesla dan terus bekerja sama dengan produsen mobil tersebut untuk memastikan tingkat keamanan tertinggi. (hd)
















