Tembawang Dihidupkan Kembali, Kebun Kakao Kalimantan Barat Dijaga dari Alih Fungsi ke Sawit

banner 468x60

Denpasar (Baliwananews.com) – Hutan menyediakan pangan bagi masyarakat adat, tetapi kebutuhan hidup mereka tidak berhenti pada makanan. Ada biaya pendidikan anak dan kebutuhan sehari-hari yang harus dibayar dengan uang. Sementara itu, kakao yang tumbuh di kebun mereka belum tentu menemukan pembeli dengan harga yang layak. Ketika hasil kebun sulit dijual, sebagian kebun pun ditinggalkan.

 

Keadaan itu menjadi perhatian Kalara Borneo, usaha sosial pengolahan cokelat yang digagas Yohana Tamara di Kalimantan Barat. Melalui pembelian biji kakao langsung dari pekebun dan kerja sama pendampingan dengan organisasi lokal, Kalara berupaya menghidupkan kembali kebun masyarakat agar tetap bernilai secara ekonomi dan tidak beralih menjadi kebun kelapa sawit.

 

“Kami tidak ingin kebun telantar itu berubah menjadi kebun kelapa sawit,” kata Yessy Octavia R. Tuani Mangasih, Kepala Produksi Kalara Borneo yang merupakan bagian dari masyarakat adat Dayak Iban.

Pendekatan yang didorong adalah agroforestri, yakni menanam kakao bersama pohon dan tanaman lain. Yessy menghubungkan praktik kebun campuran tersebut dengan tembawang, sistem pengelolaan kebun yang telah lama dikenal masyarakat adat.

 

Di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan, Yessy memandang pengelolaan kebun dan penghidupan masyarakat sebagai bagian penting dari pembicaraan tentang masa depan hutan. Ia mengatakan dampak kabut asap masih dirasakan di Kalimantan Barat.

 

“Masyarakatnya, oke, mereka jaga hutan. Tapi mereka dapat uang dari mana?” ujarnya.

 

Cerita di balik cokelat tersebut turut dibagikan Yessy dalam Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 di Bangkok, Thailand, Oktober lalu. Dalam rangkaian acara tersebut, Koalisi Ekonomi Membumi menggagas Paviliun Ekonomi Berbasis Alam, yang mempertemukan pelaku usaha dan komunitas yang menjadikan alam sebagai fondasi penghidupan dan pengembangan usaha.

 

“Negara-negara Global South mulai mempertanyakan dan merancang ulang sistem ekonomi agar kesejahteraan masyarakat dapat berjalan seiring dengan kelestarian alam,” ujar Fito Radianto, Direktur Eksekutif Koalisi Ekonomi Membumi, dalam salah satu panel BKKCAW pada Oktober lalu.

 

Praktik Kalara memperlihatkan bagaimana gagasan ekonomi restoratif dapat hadir dalam sebatang cokelat. Pembelian kakao langsung membuka pasar bagi pekebun, pengolahan di Pontianak mengembangkan nilai tambah di daerah asal, sementara pendampingan kebun campuran diarahkan agar masyarakat memperoleh penghasilan sekaligus mempertahankan keragaman tanaman.

 

Membuka Pasar agar Kebun Kembali Dirawat

Kebun-kebun yang dihidupkan kembali merupakan milik masyarakat. Sebagian telah ditanami kakao sejak bertahun-tahun lalu, tetapi tidak lagi terawat karena pemiliknya kesulitan menjual hasil panen.

 

Kalara berupaya membuka jalur pembelian langsung dari pekebun, kemudian mengolah biji kakao tersebut menjadi cokelat di Pontianak.

 

Yessy menceritakan pengalaman berinteraksi dengan pekebun perempuan di Sanggau. Sebelumnya, mereka kebingungan menentukan tempat menjual kakao. Melalui kerja sama dengan Langkau Onet, lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada pelestarian budaya lokal melalui karya kreatif, Kalara membuka kesempatan pekebun untuk kembali memperoleh penghasilan dari kebun sendiri.

 

Namun, akses pembeli bukan satu-satunya kebutuhan. Sebagian pohon kakao sudah lama ditanam dan membutuhkan perawatan. Ada pula pekebun yang memerlukan bibit serta pendampingan pengelolaan kebun.

 

Kalara bekerja sama dengan organisasi pendamping untuk mendukung proses tersebut. Menurut Yessy, kegiatan sekolah lapang melibatkan Langkau Onet dan Yayasan Kalimajari, yang mendampingi komunitas lokal dalam pengembangan komoditas unggulan secara berkelanjutan.

 

Di sisi pengolahan hasil panen, Kalara menjelaskan standar biji yang dapat diterima, termasuk kualitas fermentasi dan kondisi biji yang tidak memenuhi persyaratan. Mutu tersebut menjadi dasar penentuan harga pembelian.

 

“Semakin bagus kalian kasih biji ke kita, semakin tinggi harga yang akan kita kasih ke kalian,” kata Yessy, menjelaskan pesan yang disampaikan kepada pekebun.

 

Pendampingan dan pembelian langsung diharapkan memberi alasan bagi masyarakat untuk kembali merawat kebun. Upaya mencari kebun potensial dan masyarakat yang membutuhkan pendampingan masih terus berlangsung.

 

Mempertahankan Kakao Bersama Pohon Lain

Pemilihan kakao berkaitan dengan cara tanaman tersebut dibudidayakan. Menurut Yessy, kakao membutuhkan naungan sehingga dapat ditanam bersama pohon-pohon lain.

 

Di Kapuas Hulu, kakao tumbuh bersama pisang, nanas, jengkol petai, dan kopi. Di Sintang, kakao ditanam di sela pohon karet. Sementara di Sanggau, kakao berdampingan dengan durian.

 

Kalara mendorong praktik ini agar pekebun dapat memperoleh hasil dari beragam tanaman sekaligus mempertahankan kebun campuran. Pengembangan penghasilan diarahkan melalui kebun yang sudah ada, tanpa harus membuka lahan baru dengan menebang pohon di hutan.

 

Bagi Yessy, pengetahuan untuk mengelola kebun seperti itu telah dimiliki masyarakat adat melalui tembawang. Tantangannya adalah membuat praktik tersebut tetap dapat menopang kebutuhan masyarakat saat ini.

 

“Jadi, kami hanya menghidupkan kembali sistem perkebunan yang sudah lama dipraktikkan oleh masyarakat adat. Tidak perlu mencari sistem yang baru,” katanya.

 

Karena itu, pendampingan budidaya berjalan bersama upaya membuka pasar. Kebun yang kembali menghasilkan dan memiliki pembeli diharapkan menjadi pilihan penghidupan yang layak dipertahankan oleh pemiliknya.

 

Upaya Jangka Panjang di Tengah Persoalan Karhutla

Yessy juga mengaitkan agroforestri dengan kebutuhan mencari pendekatan jangka panjang terhadap persoalan kebakaran hutan. Menurut dia, penanganannya perlu dibicarakan lebih jauh dari tindakan pemadaman, termasuk melalui cara masyarakat mengelola kebun.

 

Namun, ia menegaskan bahwa agroforestri bukan solusi yang dapat memberikan hasil seketika.

“Kita nggak bisa bilang agroforestry bisa menjadi solusi yang cepat untuk bisa mengatasi kebakaran hutan,” ujarnya.

 

Proses tersebut membutuhkan edukasi dan pendampingan. Meskipun masyarakat telah mengenal kebun campuran, dukungan tetap diperlukan untuk merawat tanaman, memperbaiki kualitas hasil, dan mengembangkan peluang penghasilannya.

 

Menurut Yessy, kebutuhan ekonomi masyarakat tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan.

 

“Ketika kita berbicara tentang masyarakat adat, yang selalu kita bicarakan adalah tentang hutannya, tentang lingkungannya. Jarang sekali kita berbicara tentang ekonomi mereka. Padahal, ini merupakan aspek yang juga penting,” katanya.

 

Dari Kebun Masyarakat ke Cokelat Pontianak

Biji kakao yang dibeli dari pekebun diolah di rumah produksi Kalara di Pontianak. Usaha ini bermula dari serangkaian percobaan Tamara di dapur rumahnya, dengan keinginan memperkenalkan kakao Kalimantan Barat sekaligus mengolahnya di daerah asal.

 

Kegiatan produksi melibatkan sekitar sepuluh anak muda yang belajar mengolah biji kakao hingga menjadi cokelat batangan. Kalara juga membuka kesempatan bagi pekebun yang ingin melihat bagaimana hasil kebunnya diproses.

 

Bagi Yessy, produk cokelat tersebut membawa hubungan antara pekebun, kebun, dan lingkungan tempat kakao tumbuh.

 

“Kita menjual cokelat bukan hanya sekadar cokelat. Di situ ada cerita tentang petani, di situ ada cerita tentang hutan, di situ ada cerita tentang ekosistem,” ujarnya.

 

Melalui hubungan itu, Kalara berupaya membuat kebun kakao yang sempat ditinggalkan kembali bernilai bagi masyarakat. Harapannya, kebun campuran tetap dirawat dan menjadi pilihan penghidupan yang dapat diteruskan.

 

“Mungkin belum terlambat untuk kita menyelamatkan hutan yang ada di Kalimantan Barat,” kata Yessy.

 

***

Tentang Kalara Borneo

Kalara Borneo berdiri pada 2021 dan berbasis di Pontianak, Kalimantan Barat. Bekerja sama langsung dengan masyarakat adat dan pekebun setempat, Kalara mengembangkan kakao, buah maram, dan hasil hutan bukan kayu menjadi produk olahan bernilai tambah. Melalui pembelian langsung, penguatan kualitas, pengolahan, dan pemasaran, Kalara berupaya memperluas akses pasar serta mendukung penghidupan masyarakat, pelestarian tradisi lokal, dan keberlanjutan ekosistem Kalimantan. Informasi lebih lanjut: https://kalaraborneo.id.

 

Tentang Koalisi Ekonomi Membumi (KEM)

Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) adalah gerakan kolektif yang mentransformasi sistem ekonomi Indonesia agar melampaui praktik ekstraktif dan perkebunan monokultur berskala besar. Sebagai bagian dari Inisiatif Bioekonomi Indonesia, KEM memiliki visi masa depan ekonomi Indonesia yang selaras dengan denyut nadi alam—memastikan terciptanya pembagian kesejahteraan yang adil antara masyarakat dan lingkungan. https://ekonomimembumi.co

 

 

banner 336x280