Oleh: Nyoman Baskara
Antrean panjang di SPBU Bali bukan sekadar gangguan teknis. Ia adalah kegagalan menjaga kepastian layanan energi bagi masyarakat yang setiap hari bergantung pada BBM untuk bekerja, mengantar anak, melayani wisatawan, dan menjalankan usaha. Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri telah meminta maaf atas antrean panjang akibat gangguan distribusi, yang disebabkan kendala teknis pada kapal tanker saat bongkar muat. Pemerintah Provinsi Bali kemudian memberlakukan work from home pada 15–17 Oktober 2026 dan mendorong sejumlah SPBU serta depo beroperasi 24 jam secara bertahap di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.
Permintaan maaf perlu diapresiasi. Namun, maaf tanpa kompensasi dan perbaikan sistem hanyalah formalitas. Rakyat tidak meminta retorika, rakyat menuntut kepastian bahwa krisis serupa tidak akan terulang, dan bahwa mereka yang paling dirugikan tidak dibiarkan menanggung beban sendirian.
Petugas SPBU berada di garis paling depan. Mereka menghadapi antrean panjang, tekanan konsumen, jam kerja yang diperpanjang, dan risiko konflik di lapangan. Ketika 92 SPBU di Denpasar dan Badung dioperasikan 24 jam, beban kerja bertambah besar dan harus dijawab dengan penambahan personel, bukan sekadar instruksi operasional.
Pertamina dan pemerintah wajib segera memberikan Penambahan petugas jaga agar jam kerja ekstra tidak menumpuk pada personel yang sama dan Insentif lembur, bonus kinerja, dan apresiasi nyata atas kerja di tengah krisis serta beri dukungan kesejahteraan bagi petugas dan keluarganya, termasuk perhatian terhadap kondisi kesehatan dan kelelahan kerja.
Protes petugas yang muncul saat kunjungan Gubernur Wayan Koster harus dibaca sebagai sinyal bahaya. Itu bukan soal disiplin semata, melainkan tanda bahwa sistem penanganan krisis terlalu mengandalkan tenaga di lapangan tanpa perlindungan yang memadai.
Masyarakat tidak menciptakan krisis ini. Mereka yang mengantre berjam-jam, kehilangan waktu kerja, kehabisan bahan bakar, dan menghadapi ketidakpastian mobilitas. Pengemudi pariwisata, pengemudi ojek daring, pelaku usaha, dan warga biasa menanggung kerugian yang tidak kecil.
Oleh karena itu, Pertamina perlu mempertimbangkan skema kompensasi yang jelas bagi konsumen selama masa pemulihan, misalnya potongan harga atau program dukungan yang tertarget. Usulan diskon 25–30 persen harus disertai perhitungan yang transparan, siapa yang menanggung biaya, jenis BBM apa yang dicakup, serta berapa lama program berlaku. Kompensasi tidak boleh menjadi janji kosong; ia harus terukur, terdokumentasi, dan mudah diakses.
Bali bukan sekadar pulau wisata. Bali adalah mesin ekonomi nasional yang sangat bergantung pada mobilitas, pariwisata, dan kepercayaan publik. Gangguan BBM yang berlarut dapat mengganggu perjalanan wisatawan, operasional hotel dan restoran, serta aktivitas usaha kecil hingga besar.
Pemulihan pasokan mungkin dapat dipercepat, tetapi kepercayaan publik tidak. Pemprov Bali dan Pertamina harus memastikan komunikasi yang jujur, data stok yang dapat diverifikasi, serta rencana darurat yang benar-benar siap ketika rantai distribusi terganggu. Pasokan lanjutan memang telah dijadwalkan, termasuk 25 juta liter Pertalite pada 15–17 Oktober, namun masyarakat perlu melihat bukti bahwa distribusi sampai ke SPBU secara merata, bukan hanya berhenti di depo.
“Saya mengajak Gubernur Bali, para bupati dan wali kota, DPRD, serta Pertamina untuk tidak berhenti pada pernyataan bahwa stok aman. Ada tiga tuntutan yang harus dijawab secara terbuka,” kata Baskara.
Berikan kompensasi bagi petugas SPBU yang bekerja ekstra selama krisis dan skema kompensasi bagi konsumen yang dirugikan oleh gangguan layanan serta Evaluasi tata kelola distribusi, termasuk sistem peringatan dini, cadangan logistik, dan mekanisme darurat agar gangguan teknis tidak lagi berubah menjadi krisis publik.
Kehadiran negara dan Pertamina diuji bukan ketika tangki penuh dan pidato tersampaikan. Kehadiran itu diuji ketika petugas SPBU kelelahan, ketika warga mengantre tanpa kepastian, dan ketika Bali harus membuktikan bahwa ia tetap layak dipercaya sebagai destinasi andalan Indonesia. (bas)
















