Oleh: Nyoman Baskara
Sejak diperkenalkan oleh seorang pelancong asal Belanda pada sekitar dekade 1920-an, Bali tak pernah berhenti dipuja dan dipuji. Entah karena alamnya yang ‘metaksu’, warganya yang ramah, pantai-pantainya yang memesona, atau suasananya yang tenang, nyaman, dan aman.

Bali tak ubahnya gadis belia yang cantik rupawan, dengan senyum yang gemulai. Para penari Bali senantiasa mendulang decak kagum para penikmat seni, terutama wisatawan yang dimanjakan hotel dan restoran sebagai pendukung acara jamuan mereka.
Bali juga tak ubahnya madu alami yang dihasilkan oleh kawanan serangga kecil, penjaga keseimbangan alam. Maka, tak mengherankan jika berbagai jenis dan rupa “semut” menyerbu Bali termasuk kawanan semut yang justru merusak alamnya.
Hingga kini, Bali masih memiliki banyak pengagum. Namun, sebagian penikmat Bali itu tidak lagi hadir semata-mata sebagai pelancong. Mereka datang dengan niat merebut Bali atas nama investasi.
Dalam suasana mabuk kepayang oleh bayangan komisi atau imbalan transaksi, sebagian warga Bali memilih menjadi makelar tanahnya sendiri. Bahkan, karena terdorong oleh ambisi meningkatkan pendapatan asli daerah, tidak sedikit oknum pejabat di berbagai tingkatan yang diduga merangkap peran sebagai broker tanah sekaligus konsultan perizinan investasi.
Akibatnya, Sebagian lahan dan aset strategis Bali berpindah tangan kepada para pengusaha. Tanah-tanah Bali diburu dengan harga yang tak masuk akal, harga yang hampir pasti tidak mampu dijangkau oleh warga Bali sendiri.
Muncul pula dugaan bahwa sebagian pembelian tersebut berkaitan dengan praktik pencucian uang. Selama lebih dari dua dekade, Bali bahkan kerap dituding sebagai salah satu surga pencucian uang.
Lantas, ke mana gerangan krama Bali yang selama ini setia menjadi pengempon tanah Dewata?
Mereka telah lama tersingkir atas nama daya saing. Mereka tersisih karena dianggap tidak memenuhi kualifikasi perusahaan.
Pengempon itu tersingkir karena terlalu banyak mengambil libur, libur untuk menjaga dan merawat tradisi. Mereka dianggap tidak produktif karena harus berulang kali meninggalkan pekerjaan demi ngayah, mengikuti upacara, serta menjaga adat dan budaya.
Namun, siapa yang kelak menjaga dan merawat Bali yang kian ringkih? Mari kita tanyakan kepada gelombang dan buih ombak di Pantai Sanur.
Meskipun terlambat, sudah saatnya krama Bali hentikan gaya “belog ajum lengeh inguh”.
Juga singkirkan gaya “biar lacur yang penting sombong”. Let’s Save Bali. (hd)














