Indonesia memiliki sekitar 180 jenis bambu yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Bali. Di antara keragaman tersebut, bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Kurz) yang banyak tumbuh di kawasan Pupuan, Tabanan, merupakan salah satu jenis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Menurut Dr. Diah Kencana, Ketua Bamboo Learning Center (BLC) yang telah lebih dari 35 tahun menekuni dunia bambu, bambu tabah tidak hanya penting dari sisi ekologis, tetapi juga memiliki potensi ekonomi, sosial, budaya, dan ilmiah.
Bagi bambu tabah, nilai ekologisnya antara lain berkaitan dengan fungsi konservasi tanah dan air. Sementara dari sisi pemanfaatan, berbagai bagian tanaman, mulai dari rebung, batang, daun hingga akar, berpotensi dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, antara lain pangan, obat tradisional, biomaterial, bioenergi, biochar, karbon aktif, pupuk organik, hingga bahan baku industri hijau.
Namun, sebagian besar potensi tersebut belum terdokumentasi dan dikaji secara ilmiah secara optimal. Informasi mengenai keragaman genetik, kandungan senyawa bioaktif, pengetahuan tradisional, teknologi budidaya, hingga rantai nilai bambu masih perlu dikembangkan.
Melihat kondisi tersebut, Dr. Diah Kencana, periset bambu asal Blahbatuh, mendirikan Bamboo Learning Center (BLC) sekitar setahun lalu. Lembaga ini dibangun dengan menggandeng sejumlah ahli dan pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan bambu.
Penulis turut menjadi bagian dari BLC dengan bidang komunikasi publik dan kerja sama kelembagaan, sekaligus menjalankan fungsi sebagai Field Manager BLC.
Salah satu program yang tengah didorong adalah Bioprospeksi Bambu Tabah, sebuah upaya untuk menggali, mendokumentasikan, dan mengembangkan potensi bambu tabah secara lebih sistematis.
Pertama, menginventarisasi sebaran bambu tabah di kawasan Pupuan, Tabanan. Kedua, mendokumentasikan pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan bambu tabah. Ketiga, mengidentifikasi potensi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.
Keempat, melakukan karakterisasi morfologi dan ekologi serta koleksi herbarium. Kelima, melakukan analisis laboratorium terhadap kandungan fitokimia dan senyawa bioaktif bambu tabah.
Keenam, mengembangkan basis data bioprospeksi bambu tabah berbasis digital. Ketujuh, menyusun rekomendasi konservasi, budidaya, dan pengelolaan sumber daya bambu tabah.
Kedelapan, mendorong pengembangan produk inovasi dan hilirisasi penelitian. Kesembilan, mendukung peningkatan pendapatan masyarakat. Kesepuluh, mendukung pencapaian pembangunan rendah karbon dan pengembangan ekonomi hijau.
Bioprospeksi bambu tabah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penelitian. Lebih jauh, program ini dapat menjadi dasar untuk menghubungkan kepentingan konservasi dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi.
Menurut Dr. Diah Kencana, kajian yang lebih komprehensif terhadap bambu tabah dapat memberikan sejumlah manfaat. Di antaranya mendukung konservasi keanekaragaman hayati, menjadi dasar pengembangan industri bambu, membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

Hasil riset juga diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya bambu secara berkelanjutan.
Karena itu, diperlukan perhatian dan dukungan pemerintah terhadap upaya pengembangan bioprospeksi bambu tabah. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi riset, penguatan kapasitas masyarakat, konservasi sumber daya genetik, pengembangan teknologi, hingga membuka peluang hilirisasi produk bambu.

Gerakan budidaya dan pemanfaatan bambu di Bali juga membutuhkan keterlibatan dunia kampus pada berbagai tingkatan. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyediakan basis ilmiah, teknologi, inovasi, serta sumber daya manusia yang dapat mendukung pengelolaan bambu secara berkelanjutan.
Di sisi lain, keterlibatan para pemangku kepentingan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan juga diperlukan. Bambu bukan sekadar tanaman yang dapat dimanfaatkan secara ekonomi, tetapi juga bagian dari ekosistem yang memiliki fungsi penting dalam menjaga kualitas lingkungan.
Bioprospeksi bambu tabah karena itu dapat menjadi salah satu langkah untuk melihat bambu secara lebih utuh: bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai sumber daya hayati yang memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi.










