Membangun Prodi Wisata Agro Bali: Jangan Mulai dari Ruang Kuliah, Tapi Mulai dari Sawah

banner 468x60

Gagasan pembentukan Program Studi Wisata Agro di Bali patut disambut. Ia menjembatani tiga dunia yang selama ini terlalu sering berjalan sendiri: pertanian yang melelahkan tetapi strategis, pariwisata yang besar tetapi rawan melepaskan masyarakat lokal, serta generasi muda yang mencari ruang kerja dan makna. Namun, agar tidak berhenti sebagai wacana institusional, pendidikan wisata agro harus lahir dari sawah, subak, desa adat, dan pengalaman petani bukan semata dari rapat kurikulum di ruang kuliah.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Rudolf Wirawan, Ph.D., M.Sc., Founder & President BIMA Nexus Australia dan Research Fellow Universitas Padjadjaran, serta respons atas artikel “Dorong Pembentukan Prodi Wisata Agro, Jembatani Pariwisata, Pertanian, dan Kaum Milenial.” tulisan I Nyoman Baskara, (24/10).

 

Dari Aspirasi Menjadi Kebutuhan
Bali menghadapi persoalan yang saling terkait: alih fungsi lahan, regenerasi petani yang belum memadai, tekanan pariwisata terhadap budaya dan lingkungan, serta kesenjangan antara peluang ekonomi pariwisata dan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Dalam konteks ini, wisata agro bukan sekadar produk wisata baru, melainkan strategi untuk menjadikan pertanian tetap hidup, bermartabat, dan menarik bagi anak muda.

Agrowisata pada hakikatnya memadukan kegiatan pertanian, peternakan, perkebunan, dan kehutanan dengan pengalaman edukatif dan rekreasi, sekaligus memperkuat hubungan ekonomi di sektor agrikultur. Potensi ini sangat relevan di Bali karena lahan pertanian dan sistem subak merupakan aset utama bagi transformasi pariwisata berbasis kearifan lokal.

 

Subak sebagai Universitas
Bali sudah memiliki “universitas” tertua dan paling hidup: subak. Sistem irigasi ini bukan hanya teknologi pengairan, tetapi lembaga sosial, budaya, dan spiritual yang mengatur kehidupan petani secara kolektif. Subak menerapkan filosofi Tri Hita Karana, keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam (palemahan).

Jika program studi wisata agro ingin bermakna, subak harus ditempatkan sebagai laboratorium utama. Mahasiswa tidak cukup belajar teori pariwisata atau manajemen agribisnis; mereka perlu belajar langsung dari petani tentang pembagian air, musim tanam, ritual pertanian, pemasaran hasil bumi, pengelolaan limbah, hingga cara menjaga martabat budaya ketika desa menjadi destinasi.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip yang saya sebut dalam kerangka BIMA: “Nature is our University. Reality is our Professor.” Alam dan realitas masyarakat bukan pelengkap pembelajaran, melainkan sumber pengetahuan pertama.

Bukan Top-Down
Kesalahan yang paling perlu dihindari adalah membentuk program studi terlebih dahulu, lalu mencari “objek praktik” di desa. Model seperti itu berisiko menjadikan petani sebagai bahan penelitian, masyarakat adat sebagai atraksi, dan subak sebagai latar belakang estetis bagi industri pariwisata.

Pembelajaran harus tumbuh dari bawah ke atas. Petani, krama subak, pemangku adat, pelaku desa wisata, generasi muda, dan pelaku usaha lokal perlu dilibatkan sejak perumusan kebutuhan, penyusunan kurikulum, penentuan lokasi pembelajaran, hingga evaluasi manfaat ekonomi. Riset terkini juga menegaskan bahwa pelestarian subak melalui pariwisata membutuhkan pemberdayaan masyarakat berbasis kelembagaan adat, penguatan kapasitas, keterlibatan pemuda, dan sinergi antara fungsi religius, pertanian, serta pariwisata.

Artinya, program studi tidak boleh hanya menghasilkan sarjana yang paham konsep agritourism, tetapi juga insan yang mampu bekerja bersama masyarakat, mendengar, menerjemahkan kebutuhan lokal, dan membangun solusi yang adil.

Menuju Laboratorium Regeneratif
Salah satu wujud nyata dari gagasan ini adalah pembentukan Bali Agro-Tourism Regenerative Living Laboratory: ruang belajar dan berkarya yang menghubungkan kampus, desa, subak, pelaku pariwisata, teknologi, serta pemerintah. Laboratorium ini dapat menjadi tempat mahasiswa, petani, dan pelaku usaha merancang bersama produk wisata edukatif, pangan lokal, pertanian organik, digitalisasi pemasaran, dan pengelolaan lingkungan.

Pendekatan regeneratif penting karena Bali tidak hanya membutuhkan pariwisata yang “berkelanjutan”, tetapi pariwisata yang memperbaiki kondisi sosial dan ekologis.

Tri Hita Karana dapat menjadi modal spiritual dan etis bagi pariwisata regeneratif, karena ia mengarahkan kesadaran keberlanjutan melalui pendidikan karakter dan hubungan harmonis antara manusia, alam, serta spiritualitas.

Peran Pemangku Kepentingan
Perguruan tinggi perlu berani merancang kurikulum berbasis pembelajaran lapangan, riset partisipatif, dan kemitraan jangka panjang dengan desa. Pemerintah provinsi, kabupaten, dan desa perlu menyediakan perlindungan lahan pertanian, insentif bagi petani, serta ruang kolaborasi lintas sektor. Media dan tokoh masyarakat dapat memperkuat narasi bahwa wisata agro bukan proyek seremonial, melainkan investasi bagi ketahanan pangan, budaya, dan generasi muda Bali.

Dukungan dari berbagai pihak termasuk dunia pariwisata dan pelaku industri menunjukkan bahwa gagasan ini memiliki momentum. Namun momentum hanya bermakna bila diterjemahkan menjadi kebijakan, anggaran, kurikulum, dan kemitraan yang benar-benar memberi manfaat kepada masyarakat.

Biarkan Tumbuh dari Akar
Pada akhirnya, pembentukan Program Studi Wisata Agro di Bali sebaiknya tidak diukur dari cepat atau lambatnya proses akademik, melainkan dari seberapa jauh ia menguatkan petani, menjaga subak, membuka peluang bagi anak muda, dan melindungi alam.
Bukan dari atas ke bawah, tetapi tumbuh dari bawah ke atas. Petani dan masyarakat harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar objek pembangunan. Jika prinsip itu dipegang teguh, program studi wisata agro dapat menjadi jembatan yang membawa Bali menuju masa depan yang lebih adil, lestari, dan berakar pada kearifannya sendiri.

Penulis: disusun berdasarkan gagasan Prof. Dr. Rudolf Wirawan, Ph.D., M.Sc., Founder & President BIMA Nexus Australia dan Research Fellow Universitas Padjadjaran, serta respons atas artikel “Dorong Pembentukan Prodi Wisata Agro, Jembatani Pariwisata, Pertanian, dan Kaum Milenial.”

banner 336x280