Sanur (Baliwananews.com) — Seniman kontemporer Bali, Handy Saputra, menggelar pameran tunggal ketiganya berjudul “A Dialogue Between the Moon and Its Halo” (Sebuah Dialog Antara Bulan dan Halonya) di Griya Santrian, Sanur, Bali. Pameran ini menampilkan sekitar 23 karya, sebagian besar berupa akrilik di atas kanvas, dengan bahasa visual figuratif-abstrak yang spontan, mistis, dan penuh energi.
Handy Saputra adalah seniman kontemporer asal Bali yang dikenal melalui bahasa visual figuratif-abstrak, spontan, dan penuh energi. Karyanya berakar pada pengalaman personal, refleksi spiritual, serta respons terhadap dinamika sosial dan kemanusiaan. Ia telah menggelar pameran tunggal The Audacity of the Silent Brushes (2020) dan The Dragonfly Ripples (2025), sebelum kini mempersembahkan A Dialogue Between the Moon and Its Halo.
Pameran ini merupakan kelanjutan dari perjalanan artistik Handy Saputra setelah The Audacity of the Silent Brushes (2020) di Rumah Sanur dan The Dragonfly Ripples (2025) di Sika Gallery. Jika dua pameran sebelumnya lebih menekankan dimensi introspektif dan perluasan bahasa visual, kini Handy menampilkan kesadaran yang lebih kuat terhadap fenomena sosial, politik, psikologis, dan kemanusiaan di sekitarnya.
Judul pameran diambil dari penggalan puisi penyair Tiongkok, Gu Feng, tentang percakapan antara bulan dan lingkaran cahayanya. Dalam konteks kuratorial, dialog tersebut dimaknai sebagai hubungan saling melengkapi antara diri dan dunia, antara makrokosmos dan mikrokosmos, serta antara keindahan batin dan peristiwa kehidupan sehari-hari.
Pameran ini dikurasi oleh Muhammad Mundawi, yang menjabarkan pemaknaan tiap karya melalui teks pengantar kurator. Dari sekitar 23 karya yang dipamerkan, mayoritas menonjolkan warna-warna cerah seperti merah, hijau, dan kuning menyala. Hanya dua hingga tiga karya yang bersifat monokrom, menciptakan kontras yang menjadi ruang pernapasan dalam keseluruhan pameran.
Karya-karya Handy menghadirkan figur tanpa gender, makhluk anonim, objek misterius, topeng magis, serta bentuk-bentuk imajinatif. Melalui visual tersebut, pemirsa diajak merenungkan pertanyaan tentang identitas diri, makna kemanusiaan, dan hubungan antara peristiwa di permukaan bumi dengan dunia batin.
Salah satu karya berukuran besar, berdimensi 2 x 2,40 meter, menjadi titik perhatian utama dalam pameran ini. Beberapa karya lain yang dipamerkan antara lain Perjodohan di Tiongkok, Dua Pria dan Seekor Anjing, Beban Burung, dan Pengawasan Roh Merah Tua. Karya-karya tersebut menghadirkan lapisan narasi tentang ironi sosial, kesepian eksistensial, kesadaran, dan kebebasan jiwa. Burung hadir sebagai lambang kebebasan dan kesadaran spiritual.
Handy Saputra dikenal menolak bekerja dengan konsep atau pakem yang kaku. Proses berkaryanya bersifat spontan: bentuk muncul dari respons langsung terhadap kanvas kosong dan pengalaman sehari-hari, lalu dikembangkan menjadi figur-figur imajinatif.
Bagi Handy, melukis bukan hanya aktivitas estetis, melainkan juga ruang pemulihan spiritual dan pencarian ketenangan. Pengalamannya sebagai pengusaha serta pergaulannya di dunia bisnis, politik, dan masyarakat luas turut membentuk perspektifnya. Ia tidak terikat pada norma akademik seni rupa, melainkan memilih kebebasan berekspresi yang jujur dan spontan.
Ia menyerahkan penafsiran karya sepenuhnya kepada pemirsa. Yang ingin ia bagikan adalah kejujuran dari proses dan hasil berkaryanya.
Handy Saputra bekerja dalam aliran Art Brut dan Outsider Art, dengan pendekatan ekspresif yang liar, intuitif, dan tidak terbebani teknik akademik. Ia mengeksplorasi beragam medium, mulai dari tinta Tiongkok di atas kertas, akrilik di atas kanvas, sablon, litografi, hingga ukir kayu. (hd)
Informasi Pameran
Judul: A Dialogue Between the Moon and Its Halo
Seniman: Handy Saputra
Kurator: Muhammad Mundawi
Lokasi: Griya Santrian, Sanur, Bali
Tanggal peluncuran: 6 November 2026
Jumlah karya: Sekitar 23 karya
Medium utama: Akrilik di atas kanvas
Narasumber:
Handy Saputra — Seniman
Muhammad Mundawi — Kurator
















