BADUNG (Baliwananews.com) — Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park kembali mengukuhkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Bali melalui penyelenggaraan Penjor Festival 2026. Festival tahunan yang diselenggarakan pada periode Oktober/November ini menjadi wadah kebersamaan, apresiasi seni, serta kolaborasi inklusif antara GWK, komunitas lokal, dan para wisatawan.
Hal tersebut dikemukakan Ch. Rossie Andriani, Direktur Operasional GWK Cultural Park di GWK Cultural Park, Kamis, 5 November 2026.
Penjor Festival hadir bukan hanya sebagai ajang hiburan, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai filosofis penjor. Sebagai simbol rasa syukur, kemenangan dharma atas adharma, serta representasi sakral Gunung Agung dan Naga Basuki, tradisi penjor diangkat ke dalam bentuk kreasi kontemporer tanpa mengesampingkan pilar kebudayaannya.
Salah satu daya tarik utama tahun ini adalah Lomba Penjor Mini, yang mendampingi rangkaian agenda budaya lainnya seperti Pameran Penjor, Workshop Penjor, bazar UMKM terkurasi, hingga pertunjukan seni interaktif.
“Penjor Festival merupakan salah satu dari empat agenda tahunan utama GWK terdiri dari dua festival budaya dan dua konser musik. Melalui festival ini, kami ingin memberikan ruang bagi masyarakat, komunitas, dan generasi muda untuk mengenal, mengapresiasi, serta mengembangkan kreativitas kreasi penjor tanpa meninggalkan filosofi tradisinya,” ujar Rr. Indriani Kusuma – Public Relation Manager.
Penjor Festival 2026 turut berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif. Selain memfasilitasi tenant UMKM kuliner lokal terkurasi, festival ini melibatkan partisipasi aktif berbagai komunitas seni, sosial, dan kebugaran. Aktivitas interaktif seperti Body Combat bersama Celebrity Fitness, Yoga dari MicroMindfulness, serta fashion show hasil kolaborasi Gemar Creative turut menyemarakkan acara.
Sejumlah organisasi dan kolaborator budaya yang terlibat meliputi LPM Ungasan, Puri Lontar, Bali Aga, Duen Penjor, Joyful Music Bali, Debeat Music Course, Komunitas Seni Dana Swara, hingga Cressendo. Panggung hiburan utama diisi oleh deretan musisi papan atas Bali, seperti Tika Pagraky, Nanoe Biroe, Ary Kencana feat. Neli Ambarawati, dan Leeyonk Sinatra.
Sebagai ikon pariwisata Bali, GWK Cultural Park mencatat tingkat kunjungan mencapai 3.000 hingga 5.000 pengunjung per hari. Kebudayaan Bali terus dihidupkan melalui konsistensi penggelaran sekitar 15 pertunjukan seni budaya harian (tari tradisional, gamelan, hingga seni kolosal), program edukasi Literasi Budaya untuk anak-anak, serta inisiatif komunitas seperti GWK Menari, GWK Menabuh, dan Panggung Nusantara.
“Ke depannya, strategi GWK adalah memperkuat posisi sebagai destinasi wisata budaya yang menarik sepanjang tahun. Fokus pengembangan tidak hanya pada keagungan Patung GWK, melainkan pada pengayaan pengalaman pengunjung melalui pertunjukan seni, program edukasi, dan rangkaian event berkelanjutan,” ungkap Ibu Rannie.
Setelah kesuksesan Penjor Festival, GWK bersiap menyambut rangkaian event besar berikutnya, yakni GWK Bali Countdown, disamping ajang budaya tahunan lainnya seperti Festival Ogoh-Ogoh. Langkah ini menegaskan peran aktif GWK dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif lokal serta menjaga kelestarian tradisi Bali untuk generasi penerus.
GWK Cultural Park adalah destinasi wisata taman budaya di Bali yang didedikasikan untuk melestarikan dan memperkenalkan kekayaan seni serta kebudayaan Indonesia, khususnya Bali, kepada dunia. Menampilkan mahakarya Patung Garuda Wisnu Kencana, GWK memadukan keindahan arsitektur, pertunjukan seni harian, program edukasi, serta rangkaian festival berskala nasional dan internasional. (hd)
















