Oleh : Nyoman Baskara
Senin, 26 Oktober 2026, sekitar pukul 06.30, penulis dan Prof Luh Kartini, berangkat bersama dari Denpasar menuju Dencarik, Temukus Buleleng. Sebuah perjalanan yang terkait dengan Program Kampung Bambu yang digagas Kelompok Pembudidaya Bambu (Bamboo Forest North Bali)
Sekitar tiga tahun kami tak bertemu secara fisik. Namun selalu aktif saling bertukar pikiran via wa group KITA Indonesia dan Bali Green Initiative.
Tentu saja acara kopi darat hari itu menjadi istimewa. Oleh karenanya, sejak naik kendaraan yang kami tumpangi, cerita kami mengalir deras. Isunya tak jauh lingkungan Bali, yang memang sedang hadapi banyak masalah.
Prof Luh Kartini dikenal sebagai inistiator Bali Organik yang ulet dan pantang menyerah. Rupanya, ada latar belakang yang amat krusial, menjadi faktor pendorongnya.
Menurut Kartini, revolusi hijau yang demikian intensif di era rezim Presiden Soeharto, menjadi penyebab utama rusaknya tanah pertanian. Penggunaan pupuk kimia dan festisida kimia yang demikian masif kala itu, menjadikan tanah keras bak aspal. Aneka mikro organisme produktif, mati teracuni oleh senyawa kimia tersebut. Dengan demikian, proses ekologi alami tak terjadi di dalam tanah. Dan kondisi tersebut, hingga kini belum juga dapat dipulihkan seperti sedia kala.
Ini memerlukan komitmen ekstra dari pemerintah. Gerakan pertanian ramah lingkungan adalah sebuah keniscayaan. Maka, ketika pemprov mendeklarasikan Bali sebagai pulau organik, banyak mendapat dukungan masyarakat kampus dan pegiatan pertanian organik.
Selain sebagai guru besar bidang Pertanian di Universitas Udayana, Kartini juga sebagai Ketua Asosiasi Dana Nusantara.
Penulis berupaya memancing dengan isu danau di Bali yang sudah sejak lama mengalami kerusakan akut. Danau sumber kehidupan masyarakat Bali ini sungguh sungguh memerlukan program normalisasi.
Satu info sangat menarik,ternyata Bali mempunyai 5 danau yaitu : Danau Batur, Danau Beratan, Danau Buyan, Danau Tamblingan dan Danau Yeh Malet. Danau yang kelima ini, terletak di daerah Karangasem dengan luasnya 8 hektar lebih. Kisah munculnya Danau Yeh Malet ini, tak lepas dari peran dan keuletan dari Luh Kartini, yang didukung banyak pihak. Termasuk dalam melalui proses sekala dan niskala.
Berlanjut tentang hutan Bali. Kartini menegaskan bahwa harus ada aksi reforestasi terhadap hutan di Bali. Sebab, luas hutan di Bali, kono hanya tinggal 16,5℅ luas pulau Bali. Sementara luas minimal berdasarkan regulasi adalah 30℅. Dan diperburuk lagi oleh kerusakan daerah aliran sungai, serta maraknya alih fungsi lahan pertanian. Maka, lembaga Subak dan para petani Bali hadapi masalah irigasi yang amat serius. Ini sungguh pekerjaan rumah yang besar dan kompleks
Dalam konteks pembangunan perdesaan di Bali, Kartini perkenalkan konsep Sinergi Tri Sakti. Lebih lanjut, dia paparkan bahwa Kepala Desa sebagai representasi pemerintah, Jro Bendesa sebagai Pengempon wilayah adat dan budaya Bali, serta Jro Pekaseh yang mewilayahi pembangunan pertanian, harus membangun kerjasama komplimenter. Ego masing masing pihak harus dibuang jauh, tegasnya.
Hanya dengan cara pro aktif berkoordinasi, berkomunikasi, dan konsistensi tinggi, maka tujuan pembangunan desa yang harmonis dan berkelanjutan akan terwujud, pungkas ibu ahli cacing ini. (bas)










