Fenomena Maraknya Musisi Generatif AI

banner 468x60

Denpasar (Baliwananews.com) – Industri musik global sedang heboh oleh Sienna Rose, penyanyi misterius dengan jutaan stream di Spotify yang diduga kuat merupakan produk Artificial Intelligence (AI) generatif. Fenomena “artis hantu” ini memicu kekhawatiran serius bagi musisi asli yang kini harus bersaing melawan algoritma berbiaya nol namun mampu meraup royalti besar. Untuk itu, pendengar kini perlu lebih jeli membedakan mana karya manusia asli dan mana yang hasil generate mesin agar tidak terkecoh.

Dunia musik streaming sedang menghadapi ujian identitas terbarunya. Sienna Rose, nama yang mendadak muncul di Viral Top 50 Spotify dengan lagu andalan “Into the Blue”, telah didengar lebih dari lima juta kali. Bahkan selebritas sekelas Selena Gomez sempat menggunakan lagunya di Instagram Story. Namun, investigasi BBC dan analisis industri menunjukkan bahwa bintang baru ini kemungkinan besar tidak nyata.

Bagi pendengar awam, musiknya terdengar seperti soul yang lembut. Namun, ada red flag yang sulit diabaikan:
Produktivitas Tidak Masuk Akal: Antara September hingga Desember, Sienna Rose merilis setidaknya 45 lagu. Jumlah ini hampir mustahil dilakukan musisi manusia dalam waktu sesingkat itu.
Artefak Suara: Platform streaming Deezer dan pendengar teliti menemukan suara desis (hiss) khas yang sering muncul pada musik buatan aplikasi AI seperti Suno atau Udio.
Absennya Kehidupan Nyata: Tidak ada jadwal konser, tidak ada video klip, dan foto-fotonya memiliki ciri khas uncanny valley (terlihat nyata tapi aneh) ala generator gambar AI. Akun Instagram-nya pun kini nonaktif.

Ancaman Nyata bagi Industri Musik Kasus Sienna Rose bukan sekadar lelucon teknologi, melainkan sinyal pergeseran ekonomi musik yang masif:
Perang Biaya: Label K-Pop bisa menghabiskan $1 juta per tahun untuk satu artis, sementara biaya membuat “artis” seperti Sienna Rose nyaris nol. Namun, AI ini bisa menghasilkan estimasi royalti hingga £2.000 (sekitar Rp40 juta) per minggu.
Respons Platform: Deezer melaporkan bahwa 34% lagu yang diunggah ke platform mereka kini terdeteksi sebagai AI (naik drastis dari 5% setahun lalu). Bandcamp telah melarang musik AI sepenuhnya, sementara Spotify mengambil posisi netral dengan menyatakan sulit untuk menarik garis tegas antara musik AI dan non-AI.

Deezer melaporkan bahwa 34% lagu yang diunggah ke platform mereka kini terdeteksi sebagai AI. Ini memaksa pendengar untuk menjadi kurator bagi diri mereka sendiri.

Agar tidak terjebak mendukung “penyanyi robot” tanpa sadar, berikut adalah kiat praktis mengenali jejak algoritma pada musik yang Anda dengar:
Audit “Kecepatan” Rilis: Cek diskografi artis tersebut. Manusia butuh waktu untuk menulis dan memproduksi lagu. Jika seorang artis baru merilis 40-50 lagu dalam waktu 2-3 bulan (seperti Sienna Rose), itu adalah red flagterbesar.
Dengarkan “Desis” (Hissing): Fokus pada latar belakang lagu. Musik dari generator AI (seperti Suno atau Udio) sering menyisakan suara mendesis halus, static noise, atau nuansa metalik pada vokal karena cara mereka memproses white noise menjadi melodi.
Vokal yang “Terlalu Sempurna”: Vokal AI seringkali terdengar sangat stabil, on-pitch tanpa cela, namun datar secara emosi. Tidak ada tarikan napas alami atau improvisasi khas manusia di bagian chorus.
Visual Too Good to be True: Periksa profil media sosialnya. Artis AI biasanya menggunakan foto profil dengan pencahayaan yang terlalu dramatis atau glowing tidak wajar. Mereka juga dipastikan tidak memiliki rekam jejak video konser live atau interaksi nyata dengan penggemar.

Fenomena ini menempatkan pendengar di persimpangan jalan: apakah kita akan terus menikmati musik yang enak didengar meski tanpa “jiwa”, atau industri akan bergerak membatasi dominasi algoritma demi melindungi seniman manusia?​​​​​​​​​

banner 336x280