Amerika Serikat Resmi Keluar dari WHO, Tanpa Bayar Utang

Kesehatan24 Views
banner 468x60

Denpasar (Baliwananews.com) – Amerika Serikat resmi keluar dari WHO dengan meninggalkan utang ratusan juta dolar. Keputusan ini dikritik luas karena melemahkan pendanaan, pengawasan penyakit global, dan kerja sama internasional, serta dinilai merugikan kesehatan publik AS dan dunia.

Amerika Serikat secara resmi menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) pada Kamis, 22 Januari, satu tahun setelah pemerintahan Presiden Donald Trump menyampaikan niatnya untuk keluar dari badan kesehatan global tersebut. Keputusan ini menjadikan AS sebagai satu-satunya negara yang pernah keluar dari WHO sejak organisasi itu didirikan pada tahun 1948, dan menuai kritik luas dari komunitas kesehatan internasional.

WHO menyatakan bahwa Amerika Serikat meninggalkan organisasi dengan tunggakan iuran keanggotaan untuk tahun 2024 dan 2025 sebesar sekitar 278 juta dolar AS. Selain iuran wajib, ratusan juta dolar kontribusi sukarela yang sebelumnya dijanjikan AS untuk mendukung program kesehatan global juga tidak disalurkan. WHO menegaskan bahwa penarikan diri belum sepenuhnya tuntas hingga seluruh kewajiban finansial tersebut dilunasi.

Pemerintah Amerika Serikat menolak untuk membayar utang tersebut. Dalam pernyataan resmi, Departemen Luar Negeri AS menyebut biaya yang telah ditanggung pembayar pajak akibat kegagalan WHO selama pandemi COVID-19 sudah terlalu besar. Presiden Trump juga menuduh WHO “memeras” Amerika Serikat dan menutup-nutupi peran China dalam tahap awal pandemi.

Sesuai resolusi Kongres AS tahun 1948, Amerika Serikat diwajibkan memberikan pemberitahuan satu tahun sebelumnya dan melunasi kewajiban keuangan sebelum keluar dari WHO. Namun, pemerintah Trump membantah bahwa pelunasan utang merupakan syarat hukum mutlak. Para pakar menilai kecil kemungkinan WHO atau negara anggotanya dapat memaksa AS untuk membayar, terutama karena tidak adanya dukungan politik dari Kongres.

Penarikan diri ini berdampak besar pada WHO, yang kehilangan kontributor terbesarnya—sekitar 18–20% dari total pendanaan. Akibat krisis keuangan tersebut, WHO memangkas setengah tim manajemennya, mengurangi berbagai program, dan berencana memberhentikan sekitar seperempat stafnya hingga pertengahan tahun ini.

Keputusan AS juga menuai kritik dari komunitas medis. Infectious Diseases Society of America (IDSA) menyatakan langkah ini akan melemahkan pengawasan penyakit, karena AS tidak lagi berpartisipasi dalam Global Influenza Surveillance and Response System yang penting untuk pengembangan vaksin flu tahunan. Doctors Without Borders (MSF) turut mengecam kebijakan America First Global Health yang dinilai mengabaikan isu kesehatan utama dan bersifat transaksional.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut penarikan diri Amerika Serikat sebagai “situasi kalah-kalah” yang merugikan AS dan dunia. Meski sejumlah tokoh global berharap AS akan mempertimbangkan kembali keputusannya, para pengamat menilai kemungkinan negara tersebut kembali bergabung dengan WHO dalam waktu dekat sangat kecil.

banner 336x280