Denpasar (Baliwananews.com) – Para ahli memperingatkan bahwa makanan ultra-proses meningkat secara global dan terkait risiko penyakit seperti diabetes, jantung, dan depresi. Meski bukti sebab-akibat belum pasti, mereka mendesak pemerintah menerapkan peringatan, pajak, dan pembatasan untuk mengurangi konsumsi serta mendorong pola makan lebih sehat.
Makanan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF) semakin dianggap sebagai ancaman kesehatan global setelah sebuah tinjauan ilmiah besar yang dipublikasikan di The Lancet. Para ahli dari berbagai negara memperingatkan bahwa pola makan dunia kini bergeser dari makanan segar menuju produk olahan murah yang kaya gula, lemak jenuh, garam, serta bahan tambahan seperti pengemulsi dan pewarna. Perubahan ini, menurut mereka, telah meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis yang semakin sering ditemui di masyarakat modern.
Tinjauan yang melibatkan 43 peneliti dan 104 studi jangka panjang menemukan bahwa konsumsi UPF berkaitan dengan risiko lebih tinggi terhadap setidaknya 12 kondisi kesehatan, termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, penyakit ginjal, depresi, dan kematian dini. Para peneliti menilai bahwa peningkatan konsumsi UPF dipengaruhi oleh perusahaan besar yang memproduksi dan memasarkan produk-produk tersebut secara masif, sehingga makanan ini semakin menggantikan makanan rumahan dan bahan segar.
Namun demikian, sebagian ilmuwan menegaskan bahwa bukti sebab-akibat langsung antara UPF dan penyakit masih belum jelas. Mereka menyoroti bahwa studi-studi tersebut menunjukkan korelasi, bukan bukti pasti, karena faktor lain seperti perilaku hidup, tingkat ekonomi, dan pola makan keseluruhan juga dapat memengaruhi risiko penyakit. Selain itu, sistem klasifikasi NOVA yang mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pemrosesan juga dikritik karena tidak mempertimbangkan nilai gizi dari makanan tertentu yang tetap bermanfaat meski termasuk UPF.
Meski terdapat perdebatan ilmiah, para ahli tetap mendesak pemerintah mengambil langkah preventif, seperti pemberian peringatan kesehatan, pembatasan pemasaran, serta penerapan pajak pada makanan ultra-proses. Mereka menilai upaya tersebut penting untuk mengurangi konsumsi UPF dan mendorong masyarakat kembali mengonsumsi makanan bergizi yang lebih alami. Pemerintah Inggris pun mengakui bahwa tingginya konsumsi UPF merupakan isu yang mengkhawatirkan, meskipun faktor penyebab pastinya masih perlu diteliti lebih lanjut.










