TransTRACK Hadirkan Real-Time EV Battery Monitoring untuk Optimalkan Operasional Armada Listrik dan Dukung Target NZE 2060

banner 468x60

Denpasar (Baliwananews.com) – Seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik di berbagai sektor industri, TransTRACK menghadirkan fitur Real-Time EV Battery Monitoring untuk membantu perusahaan memantau kondisi baterai kendaraan listrik secara real-time melalui satu platform terintegrasi. Solusi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) ini dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan armada sekaligus mendukung pengembangan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Indonesia menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Di balik percepatan elektrifikasi armada, perusahaan menghadapi tantangan baru dalam menjaga kesiapan operasional kendaraan listrik karena performanya sangat bergantung pada kondisi baterai. Tanpa visibilitas yang akurat, proses pengisian daya, pengelolaan armada, hingga pengambilan keputusan operasional berpotensi menjadi kurang optimal.

 

Menjawab kebutuhan tersebut, TransTRACK melengkapi ekosistem Fleet Operation Optimizer dengan fitur Real-Time EV Battery Monitoring yang memungkinkan perusahaan memantau berbagai parameter penting kendaraan listrik, mulai dari EV Battery Level (SoC atau State of Charge) jika parameter yang ditampilkan berupa persentase baterai, misalnya 80%, 60%, atau 30% status kendaraan, ignition, odometer, engine hours, kecepatan kendaraan, hingga lokasi armada secara real-time.

 

Pengembangan fitur ini juga sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat pengembangan ekosistem KBLBB, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 beserta perubahannya melalui Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023. Seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, dukungan teknologi pemantauan dan pengelolaan armada menjadi semakin penting untuk membantu perusahaan menjalankan transisi menuju operasional transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

 

Founder & CEO TransTRACK, Anggia Meisesari, mengatakan bahwa elektrifikasi armada merupakan bagian penting dari transformasi sektor transportasi menuju operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada adopsi teknologi kendaraan, tetapi juga pada kemampuan perusahaan mengelola armada secara lebih cerdas.

 

“Elektrifikasi armada bukan hanya tentang mengganti kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik. Perusahaan juga membutuhkan teknologi yang mampu memastikan armada tetap beroperasi secara optimal melalui pemantauan kondisi baterai secara real-time. Dengan visibilitas yang lebih baik, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas armada, mengurangi downtime, sekaligus mengoptimalkan efisiensi operasional,” ujar Anggia.

 

Melalui fitur Real-Time EV Battery Monitoring, perusahaan dapat mengetahui tingkat daya baterai setiap kendaraan secara real-time sehingga proses pengisian daya dapat direncanakan dengan lebih optimal. Informasi tersebut juga membantu perusahaan meningkatkan kesiapan dan utilisasi armada serta mendukung perencanaan operasional berdasarkan kondisi aktual setiap kendaraan.

 

Kebutuhan pengelolaan armada listrik yang lebih terintegrasi turut dirasakan oleh BHISA Shuttle, layanan transportasi antar kota dari PT Bhinneka Sangkuriang Transport yang telah mengoperasikan kendaraan listrik pada rute Bandung–Purwakarta dan sebaliknya. Seiring pengembangan layanan transportasi yang lebih ramah lingkungan, BHISA melihat pentingnya dukungan teknologi untuk mempermudah pemantauan kendaraan, meningkatkan koordinasi tim operasional, serta memastikan kesiapan armada dalam melayani penumpang.

 

“Penggunaan kendaraan listrik merupakan bagian dari upaya kami menghadirkan layanan transportasi yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar solar. Namun, pengoperasian armada listrik membutuhkan pemantauan yang lebih disiplin, terutama terkait kondisi baterai dan perencanaan pengisian daya. Melalui dukungan teknologi TransTRACK, kami berharap pemantauan lokasi dan tingkat baterai kendaraan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan diakses oleh tim operasional yang lebih luas, sehingga koordinasi menjadi lebih efektif dan kesiapan armada dapat terjaga untuk mendukung layanan kepada penumpang,” ujar Operational Manager BHISA Shuttle, Denny Cahya.

 

Sementara itu, VP of Business Development TransTRACK, Ndaru Ruseno, menjelaskan bahwa pengelolaan armada kendaraan listrik membutuhkan pendekatan berbasis data yang berbeda dibandingkan armada konvensional.

 

“Pada armada konvensional, pengelolaan operasional umumnya berfokus pada lokasi kendaraan, konsumsi bahan bakar, dan perilaku pengemudi. Namun, pada kendaraan listrik, kondisi baterai menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan kesiapan operasional. Oleh karena itu, Real-Time EV Battery Monitoring hadir untuk menjadikan data baterai sebagai dasar pengambilan keputusan operasional. Dengan mengintegrasikan data baterai, telematika kendaraan, serta parameter operasional lainnya dalam satu platform berbasis AI dan IoT, fleet manager dapat memahami tidak hanya di mana kendaraan berada, tetapi juga apakah kendaraan tersebut siap menjalankan tugas berikutnya. Pergeseran dari sekadar vehicle tracking menjadi operational intelligence inilah yang menjadi fondasi pengelolaan armada listrik ke depan,” ujar Ndaru. (hd)

 

 

banner 336x280