Tragedi Panas Membara di Tanah Suci: 550 Jemaah Haji Meninggal Dunia

Gaya Hidup15 Views
banner 468x60

Denpasar – baliwananewa.com | Cuaca panas ekstrem hingga 48 derajat Celsius di Arab Saudi selama ibadah haji tahun ini merenggut 577 nyawa jemaah, mayoritas dari Mesir. Meski ada langkah mitigasi seperti kawasan ber-AC dan distribusi air gratis, angka kematian tetap tinggi.

Duka mendalam menyelimuti pelaksanaan ibadah haji tahun ini di Arab Saudi. Cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah tersebut telah merenggut nyawa sebanyak 577 jemaah haji dari berbagai negara, dengan 550 di antaranya tercatat di kamar mayat Al-Muaise. Suhu yang mencapai hingga 48 derajat Celsius menjadi tantangan besar bagi jutaan jemaah yang melakukan rangkaian ibadah di Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), mayoritas korban yang meninggal adalah jemaah dari Mesir, dengan jumlah mencapai 323 orang. Para jemaah haji banyak yang mengalami serangan panas (heatstroke) dan dehidrasi parah akibat cuaca yang sangat panas. Meskipun otoritas Saudi telah mengambil berbagai langkah mitigasi, seperti mendirikan kawasan yang suhunya bisa dikendalikan dengan sistem kabut dan AC, serta mendistribusikan air secara gratis, angka kematian tetap tinggi​.

Selain itu, unit medis militer juga diterjunkan untuk secara khusus menangani kasus-kasus heatstroke dan membentuk tim cepat tanggap. Namun, tantangan cuaca ekstrem ini masih sulit diatasi mengingat kondisi suhu yang terus meningkat setiap tahun akibat perubahan iklim​​.

Kementerian Kesehatan Arab Saudi serta otoritas haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia, telah mengeluarkan berbagai imbauan kepada para jemaah untuk menjaga diri dari sengatan matahari. Menteri Agama Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas, mengimbau para jemaah untuk selalu menjaga kebersihan diri, membawa semprotan air, dan beristirahat cukup selama pelaksanaan haji​.

Studi dari Universitas Sains dan Teknologi King Abdullah mengungkapkan bahwa dalam 40 tahun terakhir, suhu di Semenanjung Arab meningkat rata-rata 0,4 derajat Celsius setiap dekade. Kondisi ini memprediksi bahwa beberapa bagian Semenanjung Arab mungkin tidak dapat dihuni lagi pada akhir abad ini jika perubahan iklim terus berlanjut. Ini menjadi tantangan besar bagi penyelenggaraan ibadah haji di masa depan​​.

Tragedi yang menimpa para jemaah haji tahun ini menjadi peringatan serius akan pentingnya mitigasi terhadap cuaca ekstrem dan perubahan iklim. Langkah-langkah pencegahan dan penanganan cepat dari otoritas kesehatan menjadi krusial untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan. Dengan cuaca yang semakin tidak menentu, penyelenggaraan ibadah haji di masa mendatang perlu terus beradaptasi agar keselamatan para jemaah tetap terjamin. (hd)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *