“Santi Kakehashi”: Pelestarian Makam Miura Jo sebagai Jembatan Hati Bali–Jepang

banner 468x60

Denpasar (Baliwananews.com) — Yayasan Alam Terkembang Jadikan Goeroe resmi meluncurkan Fase 1 (Fondasi) dari Miura Jo Peace & Cultural Heritage Initiative, sebuah proyek kemanusiaan dan pelestarian warisan budaya yang mengusung semangat “Santi Kakehashi — Jembatan Hati Bali–Jepang.”

Proyek ini berpusat pada penataan dan konservasi Makam Miura Jo di Setra Agung Badung, Denpasar, sebagai ruang penghormatan sejarah, pembelajaran perdamaian, dan titik awal penguatan diplomasi kultural antara Bali dan Jepang.

Landasan sejarah yang teruji
Miura Jo (1888–1945) adalah pengusaha dan penerjemah militer Jepang yang telah lama mengenal Bali sebelum masa pendudukan Jepang. Ia dikenal melalui Toko Miura di Denpasar, keterlibatannya dalam kegiatan ekonomi masyarakat, serta perannya sebagai penghubung antara pemerintahan militer Jepang dan struktur pemerintahan tradisional Bali.

Landasan akademik inisiatif ini diperkuat oleh dua rujukan penting. Pertama, rekam jejak humanis Miura Jo telah menjadi subjek penelitian pascasarjana di Universitas Indonesia melalui tesis I Wayan Sadyana, Miura Jo dan Masa Pendudukan Militer Jepang di Bali (Program Pascasarjana UI, 2014), yang tercatat dalam sistem Perpustakaan UI. Kedua, signifikansi historis Miura Jo dikaji dalam Discussion Paper No. 375 yang disunting oleh Prof. Hiroshi Hasebe dari Tohoku University dan diterbitkan pada 2017.

Fakta-fakta ini menjadi dasar bagi yayasan untuk memposisikan situs makam Miura Jo bukan sekadar objek pemugaran, melainkan episentrum pelestarian memori kolektif dan rekonsiliasi modern. Dalam jangka panjang, inisiatif ini juga diproyeksikan mendukung gagasan kerja sama Sister City antara Kota Denpasar dan Kota Sendai, kota asal Miura Jo.

Lebih dari pemugaran fisik
Ketua Yayasan Alam Terkembang Jadikan Goeroe sekaligus konseptor proyek, Ir. Husnul Hamdy Datuk Rajo Mulia, menegaskan bahwa proyek ini berorientasi pada pelestarian memori dan pemberdayaan komunitas.

“Ini adalah proyek pelestarian memori kolektif. Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar sendiri secara resmi memperkenalkan Miura Jo sebagai ‘Bapa Bali’ untuk menggambarkan eratnya hubungan antarmasyarakat. Melalui validasi akademik UI dan Tohoku University, kita meletakkan fondasi kebenaran sejarah agar ruang pembelajaran, perdamaian, dan pemberdayaan ekonomi komunitas ini dapat tumbuh secara berkelanjutan.”

Miura Jo dikenang karena upayanya membuka partisipasi ekonomi masyarakat Bali, termasuk melalui Miura Shokai dan Asosiasi Peternakan Bali. Namun, inisiatif ini juga menekankan pembacaan sejarah yang berimbang: menghargai jejak kemanusiaannya, sekaligus memahami secara kritis konteks pendudukan militer Jepang yang melingkupi kehidupannya.

Fokus Fase 1: kemitraan dan keselarasan adat
Pada Fase 1, yayasan akan berfokus pada:
Penggalangan kemitraan institusional lintas sektor.

Pemetaan awal bersama pemangku kepentingan adat di Bali.
Perumusan model konservasi multi-mitra yang melibatkan akademisi, pemerintah, korporasi melalui program CSR/ESG, serta lembaga internasional.

Penyusunan pendekatan pelestarian yang menghormati tatanan tradisi Desa Adat setempat.

Seluruh proses akan berpegang pada filosofi lokal, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” sehingga penataan situs dilakukan secara partisipatif dan selaras dengan nilai, ritual, serta kewenangan adat Bali.

Tentang Yayasan
Yayasan Alam Terkembang Jadikan Goeroe adalah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian warisan budaya, sejarah, dan pengembangan ekonomi berbasis komunitas di Bali. Yayasan merupakan inisiator utama Miura Jo Peace & Cultural Heritage Initiative. (hd)

banner 336x280

News Feed