Resonansi Memori Naga: Ketika Naga Kembali

banner 468x60

Gianyar (Baliwananews.com) – Perjalanan Ingatan, Benturan Material, dan Resonansi Masa Kini. Masa lalu bukanlah sesuatu yang mati atau sekadar nostalgia, melainkan ingatan yang terus memanggil.

Hal tersebut tercermin dari Pameran Seni Kontemporer ‘JAGA RAGA BARA JIWA #3’ karya Agus Kama Loedin di Studio BATU8 di Pasekan – Batu Bulan, Gianyar (22/9/2026).


Hadir Putu Suasta, Westa, Warih, Pino Confesa, Eric Buvelot, Jirna, dan menjadi ajang reuni para seniman (seniman turun kabeh)

Dibuka oleh Prof Kun Adnyana Rektor ISI, Dr. Anak Agung Gede Putra, ikut di daulat memberi sambutan dan memberi apresiasi selain ikut mensponsori dg membuka stand cocktail, Booth Jung bartender & Co.


Pembukaan pameran meriah menjadi ajang perayaan karya dan reuni para seniman.

Suasana hangat, meriah dan penuh kegembiraan.

Hiburan permainan gitar legenda Rock th 80an Totok Tewel dan grup musik Blues lokal. Menambah keceriaan pembukaan pameran.

Menurutnya, Naga selalu hadir sebagai lebih dari sekadar bentuk visual. Ia membawa jejak mitologi, kekuasaan, leluhur, dan ingatan kebudayaan yang panjang. Namun, ketika Naga Jawa kembali dihadirkan melalui karya Agus, ia tidak datang dalam tubuh yang sepenuhnya familiar.

Kawat, kulit kerbau, batu, plastik, dan cahaya menjadi bahasa baru bagi makhluk mitologis tersebut. Material-material itu bukan sekadar bahan pembentuk, tetapi menjadi bagian dari proses negosiasi antara gagasan, sejarah, dan kenyataan material.

Kulit kerbau menghadirkan kesan tubuh dan napas kehidupan organik. Kawat membentuk kerangka sekaligus menghadirkan kekakuan. Batu membawa bobot dan keteguhan yang mengingatkan pada leluhur, sementara plastik menyisipkan jejak dunia artifisial manusia masa kini.

Di sinilah perlawanan material menjadi penting. Bentuk tidak semata-mata dibuat; ia ditemukan melalui keberanian berhadapan dengan material yang memiliki karakter dan “keras kepala”-nya sendiri.

Naga di Batas Waktu

Naga Jawa membawa dunia yang jauh: mitos, kekuatan, dan ingatan leluhur. Tetapi ketika ia dirakit dari kawat, plastik, kulit, batu, lalu disinari cahaya terang, masa lalunya tidak lagi hadir dalam bentuk yang utuh.

Ia justru dipaksa berdiri di sebuah batas: antara masa lalu dan masa kini.

Keberanian artistik Agus bukan terletak pada keinginan mempertahankan masa lalu agar tetap persis seperti sebelumnya. Sebaliknya, ia membawa masa lalu melewati benturan dengan bahasa visual kontemporer.

Karena itu, karya tersebut tidak hanya berbicara tentang naga. Ia juga berbicara tentang bagaimana sebuah ingatan budaya dapat bertahan ketika lingkungan tempat ingatan itu hidup terus berubah.

Ketika Memori Penonton Ikut Bertarung

Publik tidak datang ke ruang pameran sebagai halaman kosong. Setiap orang membawa pengalaman, pengetahuan, dan bayangan tentang naga yang telah lebih dahulu tersimpan di kepalanya.

Bagi penonton yang memiliki kedekatan dengan budaya Jawa, kemunculan Naga Jawa dapat terasa seperti pertemuan kembali dengan sesuatu yang akrab. Namun, pertemuan itu segera menghadirkan keganjilan.

Tubuh yang diharapkan tidak sepenuhnya kembali. Ia hadir melalui kawat, plastik, kulit, batu, dan cahaya.

Sementara bagi penonton yang lebih akrab dengan budaya pop global, siluet naga mungkin segera mengingatkan pada berbagai naga dalam film, gim, atau dunia fantasi. Namun, ketika bentuk yang hadir ternyata tidak mengikuti pakem visual tersebut, pengenalan berubah menjadi rasa asing.

Di titik itulah terjadi benturan.

Yang lama kembali dalam keadaan baru. Yang dikenal menjadi sedikit asing, sementara yang asing memperoleh kesempatan untuk dikenal.

Tiga Langkah Menuju Makna

Karya ini tidak sekadar menunggu untuk dipahami. Ia bekerja dengan cara menarik perhatian, mengganggu ingatan, lalu membuka pertanyaan.

Pertama, menarik perhatian. Cahaya yang berpendar dan material tubuh yang tidak lazim membuat mata berhenti.

Kedua, mengganggu ingatan. Bentuk naga yang hadir tidak sepenuhnya sesuai dengan bayangan yang selama ini tersimpan dalam benak penonton.

Ketiga, membuka pertanyaan. Ketika sesuatu yang dikenal menjadi asing, penonton terdorong untuk melihatnya kembali.

Dengan demikian, pengalaman melihat karya tidak berhenti pada persoalan “suka” atau “tidak suka”. Yang lebih penting adalah apakah karya tersebut mampu mengubah cara seseorang melihat, mempertanyakan, dan mengingat kembali masa lalu.

Ketika Memori Melahirkan Pengalaman Baru Di sinilah resonansi masa kini muncul.

Memori + Benturan = Naga.
Memori + Atensi = Pengalaman.

Naga Jawa menjadi relevan bukan semata-mata karena ia merupakan bagian dari warisan budaya. Ia menjadi relevan ketika kehadirannya mampu memicu pertanyaan baru dalam kesadaran manusia hari ini.

Sang naga membawa memori peradaban yang panjang. Sang seniman membawa pengalaman dan jejak masa lalu yang panjang pula.

Keduanya menghadapi persoalan yang serupa: bagaimana menemukan tubuh dan bahasa baru agar sesuatu yang telah berjalan jauh tetap dapat hadir dan didengar.

Naga membutuhkan tubuh baru agar wujudnya kembali hadir. Seniman membutuhkan bahasa baru agar ceritanya kembali memperoleh ruang dalam perhatian publik. Keduanya tidak sedang meminta kita bernostalgia.

Mereka sedang berusaha menyeberangi medan perhatian zaman yang bergerak semakin cepat.

Mengapa Naga Menyala?

Bukan karena masa lalu ingin menjadi masa kini.

Bukan pula karena sesuatu yang tua harus menyerupai sesuatu yang muda.

Ia menyala karena menolak untuk hilang.

Di dunia yang bergerak terlalu cepat—ketika segala sesuatu dituntut untuk segera terlihat, segera dipahami, lalu segera dilupakan—sang Naga harus menyala agar mata hari ini bersedia memandangnya.

Cahaya itu akhirnya bukan hanya persoalan estetika. Ia menjadi metafora tentang keberadaan memori.

Sebuah kebudayaan tidak selalu bertahan dengan cara mempertahankan bentuk lamanya. Kadang ia bertahan justru karena berani menemukan bentuk baru.

Dan ketika Naga kembali, pertanyaan yang tersisa bukan lagi sekadar tentang dari mana ia berasal.

Pertanyaannya adalah Ketika dunia telah berubah begitu cepat, masihkah sesuatu yang telah berjalan begitu jauh dapat menyala kembali? (hd)

banner 336x280