Buleleng (Baliwananews.com) — Selama lebih dari 25 tahun, sampah plastik tetap menjadi tantangan lingkungan yang serius di Bali dan Indonesia. Namun, Panti Asuhan Ananda Seva Dharma di Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng, menunjukkan bahwa solusi sederhana namun bermakna bisa dimulai dari lingkungan terkecil: tingkat masyarakat dan rumah tangga.
Berdiri sejak 25 tahun lalu di atas lahan sekitar dua hektar, Panti Asuhan Ananda Seva Dharma setiap tahun menampung 35–40 anak terlantar dari seluruh Bali. Di bawah bimbingan Dada Sutapa Nanda dan keluarga, anak-anak tidak hanya dididik untuk mandiri, tetapi juga dibiasakan sejak dini dengan gaya hidup nol sampah (zero waste).
“Sebagai sebuah pusat pemberdayaan, tentu kami juga menghasilkan sampah. Namun sejak awal, kami mengajarkan anak-anak dan warga sekitar untuk selalu memilah dan memilih sampah,” ungkap pengelola panti.
Sejalan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), Panti Asuhan Ananda Seva Dharma bekerja sama dengan PPG Universitas Ganesha Singaraja (Undiksha) mengembangkan teknologi sederhana namun efektif: alat cetak paving block berbahan dasar sampah plastik.
Teknologi ini dirancang agar harganya terjangkau dan mudah dioperasikan di tingkat desa maupun lingkungan RT/RW. Hasilnya, paving block dari sampah plastik tersebut memiliki kualitas yang setara dengan paving block konvensional.
Inovasi ini bukan sekadar pembuatan produk baru, melainkan sebuah model pengelolaan sampah berbasis sumber. Sampah plastik yang dihasilkan dari aktivitas keseharian warga tidak lagi hanya dibuang atau dikumpulkan, tetapi diubah langsung menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
“Inilah saatnya kita meniru dan menduplikasi semangat serta inovasi yang telah dibangun oleh Ananda Seva Dharma bersama Undiksha Singaraja. Satu aksi nyata lebih berarti dari sejuta narasi,” ujar tokoh masyarakat yang memantau program ini.
Semoga inisiatif ini menginspirasi lebih banyak desa, komunitas, dan lembaga di seluruh Bali untuk mengubah cara pandang terhadap sampah dari beban yang harus dibuang, menjadi sumber daya yang bernilai.
Mari selamatkan Bali, dimulai dari langkah kecil di lingkungan kita. (bas)
















