Agus Kama Loedin menguji dan mengundang apresian untuk memasuki artistika berbasis ragam tekukan kawat, yang kemudian membentuk sosok mitologis, Naga. Perjalanan kreatif Agus yang berakar dari disiplin arkeologi, bentangan panjang dunia fotografi, hingga berlabuh pada eksplorasi medium kawat serta material keras yang lain—menghadirkan sebuah perjumpaan artistik yang khas, sekaligus berkehendak menggoda nostalgia masa lalu yang mengurung.
Ia mengakrabi jejak peradaban dan artefak masa lampau, yang kemudian dilebur dengan ketajaman intuisi material, visual fotografi, ke kedalaman ekspresi rupa personal. Pada pameran ini, tema “Naga” menjadi perjalanan eksploratif yang merepresentasikan mitologi purba agar tidak membeku dalam ingatan kolektif. Melalui proses negosiasi material yang “keras kepala”—mempertemukan kawat, kulit kerbau, plastik, dan batu—perupa ini membongkar kembali wujud yang akrab untuk dihadapkan pada visual dunia kontemporer. Pendekatan ini mengubah masa lalu dari sekadar objek pamer museum menjadi sebuah medan tegangan yang hidup dan menyala.

Publik apresian yang datang, dilingkupi memori masing-masing—baik tentang relief candi, cerita leluhur, wayang, hingga budaya pop global seperti film, anime, dan gim fantasi—tidak lagi sekadar memandang sebuah artefak. Mereka masuk ke dalam ruang disrupsi atensi, di mana karya seni secara aktif menguji kesadaran, memicu keganjilan, dan merangsang lahirnya resonansi serta memori baru.

Pameran ini menunjukkan bahwa mana kala dunia bergerak begitu cepat, warisan masa lalu tidak mesti dibiarkan sekadar menjadi kenangan. Warisan masa lalu justru mesti dijaga kembali menyala, dibuat untuk merebut perhatian, dan bahkan mempertanyakan ulang cara memikirkan warisan dimaksud. Tidak terelakkan bahwa makhluk imajinatif dan mitologis, Naga, telah hadir hampir di semua tempat dan berbagai kultur. Naga Agus Kama loedin hadir dalam kebaruan artistik, yang menggoda untuk diselami.
















