Momentum Bali Berbenah: Refleksi Bencana Ekologi dan Panggilan Kembali pada Filosofi Bape Akasa Ibu Pertiwi

Oleh: Nyoman Baskara

banner 468x60

Oleh : Nyoman Baskara

 

Memasuki awal musim penghujan pada November 2026, Pulau Bali kembali dihadapkan pada pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan keselarasan hidup dengan alam.

Air hujan yang diturunkan oleh Bape Akasa (Langit/Matahari) sejatinya merupakan anugerah kehidupan untuk menyuburkan flora, memberi minum fauna, dan menopang kesejahteraan manusia di atas Ibu Pertiwi (Bumi). Namun, ketika daya dukung lingkungan terabaikan, anugerah tersebut berpotensi berubah menjadi bencana ekologi.

Fenomena ini mengingatkan kembali pada pesan bijak Mahatma Gandhi bahwa bumi senantiasa menyediakan segalanya cukup untuk kebutuhan seluruh manusia, tetapi tidak untuk memuaskan keserakahan.

Menghidupkan Kembali Kearifan Lokal Bali
Dalam tradisi Bali, rasa hormat tidak hanya ditujukan kepada Guru Rupaka (orang tua kandung, meme lan bape), tetapi juga wajib diwujudkan kepada Bape Akasa dan Ibu Pertiwi sebagai penopang utama kehidupan.
Prinsip dasar ini kembali ditegaskan oleh akademisi Bali, Prof. Luh Kartini, dalam penutupan acara diklat Kelompok Budidaya Bambu dan dialog bersama Kelompok Pecinta Alam di Dencarik, Buleleng, pada 26 Oktober 2026 lalu. Beliau menggarisbawahi kearifan lokal (local wisdom) yang mengingatkan bahwa kecenderungan mengejar keinginan tanpa batas hanya akan melahirkan derita dan merusak tata kehidupan. Pesan utamanya sangat tegas yaitu Hiduplah selaras dengan alam.

Bencana ekologi yang terjadi di beberapa titik wilayah hendaknya tidak dipandang sekadar sebagai fenomena cuaca belaka, melainkan sinyal alarm bagi seluruh elemen masyarakat.

Perubahan fungsi lahan, ketidakpatuhan terhadap regulasi lingkungan, hingga praktik pengelolaan alam yang kurang bijaksana—apabila dilakukan oleh pihak manapun, baik oknum pejabat, pengusaha, politisi, maupun masyarakat umum—akan membawa konsekuensi fatal bagi keselamatan bersama.

Mengabaikan hukum alam demi kepentingan jangka pendek hanya akan menempatkan ruang hidup Bali dalam ancaman bahaya yang berkepanjangan. Oleh karena itu, integritas dalam penegakan aturan dan kejujuran dalam tata kelola lingkungan menjadi syarat mutlak untuk mencegah bencana yang lebih besar.

Musim penghujan ini harus dijadikan momentum kolektif untuk memulihkan Bali melalui langkah konkret dan pembenahan tata kelola lingkungan secara menyeluruh.
Melalui gerakan “Let’s Save Bali”, seluruh pihak diimbau untuk:

* Penegakan Aturan Lingkungan: Memastikan setiap kebijakan pembangunan dan tata ruang mematuhi analisis dampak lingkungan secara jujur dan transparan.

* Restorasi dan Adaptasi Gaya Hidup: Mengembalikan kesadaran moral masyarakat untuk menjaga kelestarian Bape Akasa dan Ibu Pertiwi melalui tindakan nyata penanaman pohon, konservasi air, dan pembatasan eksploitasi alam.

* Mengendalikan Komersialisasi Berlebihan: Mengutamakan keberlanjutan ekologi di atas kepentingan keuntungan sesaat demi keberlangsungan generasi Bali mendatang.
Mari jadikan momentum “Bali Berbenah” ini sebagai ajakan bersatu merawat bumi tempat kita berpijak. (bas)

 

banner 336x280