Inovasi Wolbachia Cegah Nyamuk Diuji di Lima Kota

banner 468x60

Denpasar (Baliwananews.com) – Kementerian Kesehatan Indonesia menerapkan teknologi Wolbachia untuk pengendalian DBD. Mengikutin kesuksesan di kota Yogyakarta, uji coba akan dilakukan di lima kota. Namun penting untuk masih tetap menjalankan metode pencegahan lain seperti gerakan 3M Plus dan menjaga kebersihan.

Terkait dengan upaya penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah mengadopsi inovasi teknologi Wolbachia. Selain Indonesia, sembilan negara lain, termasuk Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Mexico, Kiribati, New Caledonia, dan Sri Lanka, juga telah berhasil menerapkan teknologi ini dengan hasil yang positif dalam menangani penyebaran DBD.

Wolbachia, sejenis bakteri, diinfeksi pada nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama penyakit tersebut. Pendekatan ini terbukti efektif karena bakteri Wolbachia dapat menghambat perkembangan virus dengue dalam nyamuk, sehingga mengurangi risiko penularan kepada manusia. Melalui langkah-langkah inovatif seperti ini, diharapkan dapat tercapai penurunan signifikan dalam jumlah kasus DBD serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penerapan teknologi Wolbachia menjadi bagian integral dari strategi pengendalian yang telah diintegrasikan ke dalam Strategi Nasional (Stranas). Sebagai proyek uji coba pertama di Indonesia, implementasinya dilakukan di lima kota, yakni Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Kupang, dan Bontang, sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1341 mengenai Pelaksanaan Proyek Uji Coba Implementasi Wolbachia sebagai inovasi dalam penanggulangan demam berdarah dengue.

Kajian terhadap efektivitas Wolbachia telah dimulai sejak tahun 2011, yang dilakukan oleh WMP di Yogyakarta dengan dukungan dari yayasan filantropi Tahija. Penelitian ini melibatkan fase persiapan dan pelepasan Aedes aegypti yang telah diinfeksi Wolbachia dalam skala yang terbatas selama periode 2011-2015.

Wolbachia memiliki kemampuan untuk menghambat virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti, sehingga mencegah penularan virus tersebut kepada manusia. Apabila nyamuk Aedes aegypti jantan yang terinfeksi Wolbachia berpasangan dengan nyamuk betina, virus dengue pada nyamuk betina akan dicegah. Lebih lanjut, jika nyamuk betina yang membawa Wolbachia berpasangan dengan nyamuk jantan yang tidak terinfeksi Wolbachia, maka semua telur yang dihasilkan akan mengandung Wolbachia.

Sebelumnya, percobaan penyebaran nyamuk yang terinfeksi Wolbachia telah dilaksanakan di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada tahun 2022. Dalam hasilnya, terungkap bahwa di wilayah yang telah diinfeksi Wolbachia, terjadi penurunan kasus demam berdarah sebesar 77 persen, sementara proporsi pasien yang dirawat di rumah sakit mengalami penurunan sebanyak 86 persen.

Meskipun begitu, adopsi teknologi inovatif Wolbachia tidak menggantikan secara langsung metode-metode pencegahan dan pengendalian dengue yang sudah diterapkan di Indonesia. Masyarakat diimbau untuk tetap melaksanakan prinsip gerakan 3M Plus, yang mencakup Kegiatan Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang, sambil terus menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan. (hd)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *