Denpasar (Baliwananews.com) – Dalam dunia kreasi, ada masa dimana pelaku kreatif memlih untuk berhenti sejenak Mengendapkan setiap gagasan, seakan-akan berhibernasi tapi tidak diam, dan terus mengeksplorasi gagasan, mereka menghilang sejenak untuk menyepi ke laboratorium kreatif, meramu setiap gagasan, fokus dan menghindari distraksi luar yang bising khusuk pada pencarian-pencarian artistik yang segar, sambil mengevaluasi setiap karya dan gagas an yang telah dilalui. Dibalik keheningan itu, pada kedalaman ladang ide, benih-benih kesegaran visual tetap berdenyut, menyimpan energi, menunggu saatnya untuk berkecambah menembus pemukaan “tanah”, menyapa “panggung” yang dulu sempat ditinggalkan sejenak.

Kinl, musim baru telah hadir, seperti musim semi yang menandai berakhirnya musim dingin yang meretakkan lapisan lapisan es, oleh binar energi panas yang datang dari dalam diri, dari bara batin para perupa yang sekian waktu menahan ledakan artistik di dalam rongga waktu. Dari retakan itu mengalir cahaya, berkas berkas sinar artistik yang segar. Garis mengalir dinamis, warna-warna khas memuai dari tube-tube yang lama tertutup, kanvas menjadi ladang-ladang persemaian ide. gagasan membiakkan bentuk-bentuk baru.

“Vernal Artistic” berlangsung dari 08 Mei 2026 sampai 26 Juni 2026 menampilkan karya Edy Asparanggi, I Gede Sugiada, 1.B. Suryantara, Dewa Gd Agung dengan Kurator Made Susanta Dwitanaya.
Pameran dibuka di Buka oleh Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana (Rektor ISI Bali) di Santrian Gallery, JI. Danau Tamblingan No. 47, Sanur, Denpasar, Bali.
“Vernal Artistic” adalah musim semi artistik. Musim ketika garis meliuk dinamis, ketika bidang dan ruang menolak stagnan, komposisi terkonfigurasi dinamis, ketika warna menemukan auranya kembali. Para perupa yang dulu menyelami kesunyian itu muncul kembali seperti akar yang menembus batu, tunas yang membelah biji. Mereka melukis bukan untuk menggambarkan tapi untuk menghidupkan, mereka menumpahkan rupa untuk memaknali waktu dan diri yang telah difem entasi oleh kesabaran dan juga pengalaman-pen galaman diri. Setiap torehan garis, sapuan sapuan kuas, kompossi objek dan ruang adalah denyut perkecambahan baru yang bergerak menuju cahaya, seperti tunas-tunas musim semi yang menuju cahaya, menumbuhkan batang cabang ranting , daun, memekarkan bunga dan buah yang segar.
“Vernal Artistic” adalah gerak hidup yang diterjem ahkan ke dalam warna. la adalah saat ketika kesunyian berfotosintesis menjadi rupa, keika dlam bertransformasi menjadi ritme,ketika yang beku akhirnya meleleh menjadi komposisi yang hidup. Setiap karya di sini seperti tubuh musim semi itu sendiri: menumbuhkan tunas, menegakkan batang. membuka mata, menyerap cahaya, dan menyalurkannya ke segala arah Jadi tumbuh dalam keberanian yang pelan tapi pasti, dalam kerendahan hati yang mekar, dalam keyakinan bahwa keindah an sejati tidak lahir dari proses yang instan, mel ain kan dari proses fermentasi waktu dan momentum. Para perupa kini kembali pada cahaya semangat penciptaan yang disadari dan dihayati sebagai musim semi artistik yang sedang diras akan oleh ; Putu Edi Asparangg, I Gede Sugiada “Anduk”, lda Bagus Suryantara “Cooh, dan Dewa Gede Agung.
Karya-karya keempat perupa ini menanmpilkan hasil penghayatan artistik mereka Putu Edi Asparangi menghadirkan nuansa surealistik dengan pili han warna-warna yang hangat, berbagal mahkiuk mitologis yang berakar dari kebudayaan visual Bal oleh Edi dieksplorasi ikonografi visualnya menjadi bahasa yang lebih personal. Aspek dekoratif pada karya-karya budaya rupa Bali coba dihadirkan secara volumetris oleh Edi. Lihat misalnya dalam karya yang berjudul “Ngintip Capung” menghadirkan sosok barong dengan pen ggambaran elemen elemen ornamen berupa dedaunan yang tak ditampilkan secara stiliristik melainkan secara naturalistik.Hal ini juga tampak pada karya berjudul “Bedawang” sosok kura kura raksasa yang dalam mitologi Bali sebagai penyangga bumi.
Kekhasan warna yang cenderung hangat. pengolahan bentuk serta komposisi yang dinamis tampak pada karya-karya terbaru I Gede Sugiada “Anduk. Sejak beberapa tahun terakhir karya karya Sugiada memperlihatkan nuansa warna yang lebih bright ketimbang karya-karya pada periode sebelumnya yang cenderung mengeksplore warna yang lebih temaram. Selain itu karya-karya Sugiada dalam pameran ini juga memperlihatkan komposisi yang lebih dinamis, objek-objek yang tersusun dari bentuk bentuk plastis seperti figur tubuh, aneka tumbuhan yang cenderung ornamentik berpadu dengan komposisi bidang-bidang geometris yang tersusun menjadi motif, kombinasi dua karakter bentuk yang kontras antara yang dinamis dan geometris menghadirkan satu pola komposisi yang meski terlihat acak namun tetap terasa harmonis dalam nuansa warna warni yang cenderung hangat.
Kekuatan garis dan bentuk khas seni lukis Bali serta teknik pewarnaan sigar warna dieksplorasi sedemikian rupa melalui karya-karya lda Bagus Suryantara “Codh”. Berbagal figur yang berangkat dari eksplorasi Ikon ografi rupa wayang dihadirkan dalam narasi yang lebih personal, tidak lagi terikat dengan narasi pada epos tertentu yang menjadi ciri khas karya-karya seni lukis Bali. inilah nilai artistik yang dapat kita baca pada karya-karya mutakhir ida Bagus Suryantara. Karakteristik garis menjadi sesuatu yang esensial pada karya-karyanya yang ia paka sebagai elemen pengkonstruksi visual. Seläin menghadirkan karya-karya lukisan diatas kanvas, Suryantara dalam pameran ini juga menghadirkan karya-karya yang mengeksplorasi medium bubur kertas yang dib entuk menjadi berbagai bentuk acak diluar konvensi bidang persegi, diatas permukaan bidang bidang bermediumkan bubur kertas itu, Suryantara menghadirkan lukisan lukisannya yang banyak mengambil elemen alam dan juga tubuh manusia.
Dewa Gede Agung dalam pameran ini menghadirkan eksplorasi visual terbarunya yang berangkat dari pengolahan elemen garis, lalu bergerak menuju pengolahan atas unsur-unsur ornamentik. Dewa memberikan pernyataan artistik atas karya-karya dan proses kreatifnya, ia memandang karyanya sebagai metafora dari siklus hidup sebuah tumbuhan yang berangkat dari bij yang tertanam di tanah sebagai gagasan, lalu berkecambah yakni elemen gars, kecambah ini terus bertumbuh secara dinamis, menjadi sulur sulur atau yang dalam istilah Bali disebut “utilr. Dari kesadaran konseptual ini karya-karya dewa berangkat, setiap visual yang hadir adalah hasil dari pergerakan dan dinamika garis yang “menjalar” dan “bertumbuh” terkadang menjadi figur dan objek terkadang menjadi ornamen, dan terkadang bergerak secara esensial menjadi komposisi garis dan bidang bidang abstrak, yang dikombinasikan pula dengan aspek warna maupun monokromatik hitam dan putih.
Demikianlah pembacaan atas karya-karya yang dihadirkan oleh keempat perupa ini, karya yang terakumulasi dari hasil pengendapan gagasan dan eksplorasi diri di laboratorium kreatf. Sekian waktu jeda dari kehadiran mereka di “panggung” pameran telah mereka lalui untuk larut dalam eksplorasi gagasan dan visual, yang hari ini dapat kita saksikan besama hasilnya. Inilah Vernal Artistic, pemaknaan atas musim semi kreativitas keempat perupa. (hd)










