Polda Bali dan Disdikpora Perkuat Sinergi dan Perhatikan 65 Siswa ADEM di Bali

banner 468x60

DENPASAR (baliwananews.com) –  Polda Bali bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali memperkuat sinergi untuk memastikan 65 siswa program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dari Papua dapat belajar dengan aman dan nyaman di Bali.

 

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan silaturahmi Polda Bali dengan Disdikpora Provinsi Bali di Warung Be Sanur, Jalan Tantular, Denpasar, Jumat, 7 Agustus 2026 sejak pukul 14.30 hingga 16.00 WITA.

 

Pertemuan tersebut dihadiri jajaran Ditintelkam Polda Bali, Disdikpora Provinsi Bali, guru pendamping, serta koordinator siswa ADEM. Kegiatan menjadi bagian dari upaya pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) melalui pendekatan kekeluargaan.

 

Kasubdit I Ditintelkam Polda Bali AKBP Agung Budiarto mengatakan, pendampingan terhadap siswa ADEM tidak hanya berkaitan dengan pengawasan, tetapi juga bagaimana membangun rasa aman selama mereka menjalani pendidikan jauh dari daerah asal.

 

“Kegiatan ini bertujuan menjalin sinergitas. Bagaimana kita bersama-sama mendampingi adik-adik dari Papua agar bisa belajar dengan tenang di Bali,” ujarnya.

 

 

Pendekatan Kekeluargaan Jadi Kunci

 

AKBP Agung menyebut perbedaan budaya dan kebiasaan menjadi salah satu tantangan dalam pendampingan siswa ADEM. Karena itu, pengawasan perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih dekat dan komunikatif.

 

Menurutnya, pembinaan harus mengutamakan pendekatan dari hati ke hati. Namun, langkah tegas tetap diperlukan apabila ditemukan pelanggaran.

Surat peringatan dapat menjadi langkah awal pembinaan. Jika proses pembinaan tidak memberikan hasil, pemulangan siswa ke daerah asal dapat menjadi opsi terakhir demi kepentingan siswa dan lingkungan pendidikan.

Program ADEM sendiri merupakan program Pemerintah Pusat.

 

Pada tahun ini, Bali menerima 65 siswa yang tersebar di 25 sekolah di berbagai kabupaten dan kota.

 

Kabid PK dan PLK Disdikpora Provinsi Bali, Made Vitri Apsari, S.STP., M.A.P., mengatakan pengawasan terhadap para siswa terus dilakukan untuk mencegah mereka terjerumus dalam tindakan yang bertentangan dengan hukum.

 

“Kami sudah melakukan pengawasan mkksimal agar adik-adik kita tidak terjerumus pada hal-hal yang bertentangan dengan hukum selama di Bali,” kata Vitri.

 

Ia juga mengapresiasi Ditintelkam Polda Bali yang memfasilitasi pertemuan tersebut.

 

Menurutnya, komunikasi antara aparat, sekolah, pendamping, dan pemerintah daerah penting untuk menemukan solusi terhadap persoalan yang muncul di lapangan.

 

“Diskusi seperti ini penting, agar solusi yang kita ambil benar-benar menyentuh di lapangan,” paparnya.

 

 

Pendampingan Tak Hanya di Sekolah

 

Koordinator Siswa ADEM mengungkapkan bahwa mendampingi siswa yang jauh dari keluarga memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, pendampingan dilakukan dengan membangun komunikasi dan menghadirkan berbagai kegiatan positif.

 

Para siswa diajak mengikuti kegiatan wisata, kompetisi futsal rutin, hingga perayaan Natal sebagai ruang untuk memenuhi kebutuhan sosial dan spiritual mereka.

 

“Kami juga jaga komunikasi baik dengan mahasiswa Papua di sini. Kalau ada adik yang memang tidak nyaman atau tidak bisa dibina, kita kembalikan ke Papua. Itu keputusan berat, tapi demi mereka juga,” ungkapnya.

 

Koordinator juga berharap komunikasi lintas lembaga dapat terus dilakukan. Salah satunya melalui dukungan terhadap pemantauan keberadaan siswa untuk memastikan aspek keamanan tetap terjaga.

 

Siswa Papua Hadapi Tantangan Tempat Tinggal

 

Dalam pertemuan tersebut, guru pendamping juga menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi siswa ADEM. Salah satunya berkaitan dengan tempat tinggal.

 

Tidak semua warga bersedia menerima siswa asal Papua untuk tinggal di lingkungan mereka. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa menghadapi kesulitan dalam mendapatkan tempat kos yang layak dan nyaman.

 

Pengaruh lingkungan pergaulan di luar sekolah juga menjadi perhatian. Beberapa siswa disebut dapat terpengaruh oleh senior yang telah berstatus mahasiswa sehingga berpotensi melakukan pelanggaran hukum.

 

Guru pendamping berharap pembinaan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh, termasuk melalui pendekatan keagamaan dan pengembangan potensi siswa.

 

“Karena itu kami minta ada pembinaan kerohanian secara berkala lewat pemuka agama. Dan beri mereka ruang untuk berprestasi. Kalau mereka punya kebanggaan di bidang olahraga, seni, atau akademik, mereka akan merasa diterima dan betah di Bali,” ujarnya.

 

Pertemuan Polda Bali, Disdikpora, guru pendamping, dan koordinator siswa ADEM tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan.

 

Sinergi lintas pihak diharapkan tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang membuat siswa ADEM merasa diterima selama menempuh pendidikan di Bali.

 

Dengan pendampingan yang mengedepankan komunikasi, pembinaan, serta ruang bagi siswa untuk mengembangkan prestasi, keamanan dan kenyamanan 65 siswa ADEM di 25 sekolah di Bali diharapkan dapat terus terjaga dengan baik. (hd)

 

 

 

banner 336x280