Tiongkok (Baliwananews.com) – Hubungan provinsi bersaudara Bali–Yunnan, Tiongkok, yang telah terjalin lebih dari dua dekade memperoleh pengakuan internasional melalui penghargaan yang diserahkan Gubernur Yunnan dalam ajang China International Friendship Cities Conference (CIFCC) 2026 di Xi’an, Selasa (20/10/2026).
Penghargaan diterima Agus Maha Usadha, Ketua Eksekutif Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok (PPIT) Bali sekaligus Ketua Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali. Ia hadir atas undangan khusus Gubernur Yunnan dan Chinese People’s Association for Friendship with Foreign Countries (CPAFFC).

Penghargaan tersebut dinilai sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi, keberlanjutan, dan komitmen aktif dalam menjaga hubungan provinsi bersaudara Bali–Yunnan selama lebih dari 20 tahun.
“Menerima penghargaan ini merupakan suatu kehormatan besar dan bukti nyata dari kerja keras banyak pihak selama 20 tahun terakhir. Hal ini mencerminkan ikatan yang kuat di antara masyarakat kita,” ujar Agus Maha Usadha.

Bukan Sekadar Seremoni Diplomatik
Agus menegaskan bahwa tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan hubungan baik yang telah terbangun, tetapi juga memastikan persahabatan tersebut menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat Bali.
“Hubungan provinsi bersaudara tidak boleh berhenti pada seremoni, kunjungan, atau pertukaran delegasi. Yang paling penting adalah bagaimana hubungan ini melahirkan program nyata, membuka peluang kerja sama, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” jelasnya.
Sebagai langkah penguatan kelembagaan, PPIT Bali dan CPAFFC Yunnan menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Agustus 2026. Kesepakatan yang melibatkan Wang Yu, Wakil Presiden CPAFFC Provinsi Yunnan, itu diharapkan menjadi landasan kolaborasi di bidang pariwisata, kebudayaan, pendidikan, dan pengembangan ekonomi.
Bali Belajar dari Yunnan
Kerja sama Bali–Yunnan diarahkan pada pertukaran pengetahuan mengenai pariwisata berkelanjutan, pengelolaan destinasi, pelibatan masyarakat, serta pelestarian warisan budaya.
Agus menilai pengalaman Yunnan dalam pengembangan pariwisata perdesaan menjadi rujukan menarik bagi Bali, khususnya dalam menghubungkan potensi budaya dan alam dengan kesejahteraan masyarakat lokal.
“Bali memiliki kekuatan budaya dan pariwisata yang sudah dikenal dunia. Namun, kita juga harus terus belajar, terutama bagaimana memastikan masyarakat lokal menjadi bagian utama dari pembangunan pariwisata,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menjadi penting di tengah tuntutan agar pembangunan pariwisata tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan, kelestarian budaya, dan pemerataan manfaat ekonomi.
Bidik Pendidikan, Investasi, hingga AI
Di luar pariwisata, Agus mendorong perluasan kerja sama ke bidang pertanian, energi hijau, pendidikan, teknologi, kesehatan, dan investasi.
Salah satu prioritas adalah pengembangan sumber daya manusia, terutama untuk mempersiapkan generasi muda Bali menghadapi ekonomi digital dan industri berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Ke depan, kita tidak cukup hanya mengandalkan keunggulan Bali sebagai destinasi wisata. Kita juga harus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, memiliki keterampilan yang dibutuhkan industri, dan siap mengambil peluang dari kerja sama internasional,” tambahnya.
PPIT Bali dan NCPI Bali kini menjajaki program pertukaran pendidikan serta pelatihan vokasi. Di sektor ekonomi, peluang investasi dari Yunnan juga ingin dibuka lebih luas agar Bali tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi berkembang sebagai mitra strategis dalam bisnis, inovasi, pendidikan, dan investasi berkelanjutan. (hd?















