Dorong Pembentukan Prodi Wisata Agro, Jembatani Pariwisata, Pertanian, dan Kaum Milenial

Oleh : Nyoman Baskara

banner 468x60

Oleh : Nyoman Baskara

 

Semaraknya perkembangan pariwisata di Indonesia patut kita apresiasi. Dukungan Kementerian Pariwisata terhadap keberadaan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) di Bali layak disambut hangat, karena diproyeksikan akan melahirkan insan pariwisata yang berdaya saing tinggi di kancah global.

Namun di tengah optimisme tersebut, ada satu hal mendasar yang tak boleh diabaikan: pariwisata Bali pada hakikatnya adalah pariwisata budaya yang hidup dari filosofi Tri Hita Karana, yang menempatkan keseimbangan alam dan kehidupan sebagai fondasi utamanya.

Saat ini, Bali dihadapkan pada kenyataan yang mengkhawatirkan yaitu regenerasi sumber daya manusia di bidang pertanian berada di titik nadir. Semakin banyak pemuda Bali memilih bekerja di sektor pariwisata atau bahkan ke luar negeri. Dua pertanyaan mendasar terus bergema, Siapa yang akan merawat dan meneruskan pertanian Bali ke depan? Pertanyaan yang lama terungkap, namun belum menemukan jawaban memuaskan.

Sebagai solusi yang komprehensif, disampaikan gagasan untuk mendirikan Program Studi Wisata Agro di lingkungan Poltekpar Bali. Gagasan ini telah disampaikan lebih dari lima tahun terakhir dan kini dianggap semakin mendesak untuk diwujudkan secara resmi dalam kurikulum akademis.

“Selama ini kedua sektor seolah berjalan di jalur terpisah. Padahal keduanya saling membutuhkan. Melalui Prodi Wisata Agro, kita merancang sebuah simbiosis mutualistis yang utuh sejak dini,” ungkap penggagas inisiatif ini.

Konsep ini terinspirasi dari pengalaman nyata yang telah berjalan sukses di Jepang dan Taiwan, di mana pertanian modern berpadu harmonis dengan destinasi wisata:

– Rumah kaca berbasis IoT (Internet of Things) memantau suhu, kelembapan, dan nutrisi secara real-time
– Generasi milenial tidak hanya terlibat sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai pengelola dan inovator
– Kawasan pertanian bukan lagi sekadar tempat produksi, melainkan menjadi destinasi wisata edukatif yang menarik minat wisatawan

Lulusan Prodi Wisata Agro nantinya akan dibekali kompetensi ganda yaitu menguasai teknologi pertanian modern sekaligus memahami kebutuhan dunia pariwisata. Mereka menjadi jembatan strategis antara petani dan industri pariwisata.

Untuk menjamin keberlanjutan, diperlukan penerapan konsep Corporate Farming: kawasan pertanian dikelola secara profesional dengan teknologi modern, sekaligus dijadikan mitra strategis industri pariwisata. Dengan demikian, lahan pertanian memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan sehingga alih fungsinya dapat dicegah.

“Pariwisata dan pertanian tidak harus saling meniadakan. Keduanya dapat tumbuh beriringan. Bali berkembang bukan dengan meninggalkan ladangnya, melainkan dengan menjadikan ladang itu bagian dari keindahannya.” tutupnya. (bas)

banner 336x280

News Feed