“Bamboo Forest North Bali”, Harapan Baru Bagi Ketahanan Lingkungan dan Ekonomi Warga

banner 468x60

BULELENG (Baliwananews.com) — Kelompok Pembudidaya Bambu “Bamboo Forest North Bali” resmi dideklarasikan pada Senin, 26 Oktober 2026, di Krisna Osea Park, Desa Temukus, Kecamatan Buleleng, Bali. Deklarasi ini menjadi langkah awal pemberdayaan masyarakat Desa Dencarik dalam mengubah lahan kritis menjadi kawasan bambu yang produktif, lestari, dan bernilai ekonomi. Desa Dencarik berada di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Kegiatan diinisiasi oleh Tim Group Krisna bekerja sama dengan Bamboo Learning Center (BLC). Hadir sekitar 32 anggota kelompok yang mewakili elemen masyarakat Desa Dencarik, didampingi langsung oleh Kepala Desa Putu Riasa, Sekretaris Desa, dan jajaran perangkat desa. Acara juga disaksikan oleh Bendesa Desa Adat Corot serta Jro. Pekaseh Subak Corot.

Setelah deklarasi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan kelompok pada pukul 09.00–15.00 WITA. BLC menghadirkan empat narasumber dengan keahlian yang saling melengkapi antara lain Nyoman Baskara, pemberdayaan masyarakat pembudidaya bambu., Prof. Dr. Ir. Santosa, konservasi sumber daya air., Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, peningkatan kesuburan tanah. dan Dr. Ir. Diah Kencana, Ketua BLC, teknologi derivat produk bambu.

Pemberdayaan pembudidaya, konservasi air, pemulihan kesuburan tanah, hingga pengembangan produk turunan bambu. Pendekatan ini menempatkan bambu bukan hanya sebagai tanaman konservasi, tetapi juga sebagai komoditas yang dapat mendukung pendapatan masyarakat dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Menurut Dr. Ir. Diah Kencana, deklarasi kelompok merupakan langkah progresif pasca penandatanganan MoU antara Krisna Group dan BLC. Kerja sama tersebut akan dilanjutkan melalui Perjanjian Kerjasama selama lima tahun ke depan.

Kehadiran pemerintah desa, lembaga adat, dan subak dalam kegiatan ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan program. Krisna Osea Park sendiri merupakan bagian dari Krisna Nusantara di Bali Utara yang berlokasi di Desa Temukus, Buleleng.

Suasana pelatihan berlangsung hangat dan antusias. Dukungan Kepala Desa, perangkat desa, panitia, serta peserta menjadi pendorong interaksi produktif selama kegiatan berlangsung.

Melalui pembentukan “Bamboo Forest North Bali”, pihak-pihak yang terlibat berharap lahan kritis di Desa Dencarik dapat dipulihkan menjadi kawasan bambu produktif. Program ini diharapkan memberikan manfaat ganda yaitu memperkuat ketahanan lingkungan dan sumber daya air, meningkatkan kesuburan tanah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui budidaya dan pengolahan derivat bambu.

Setelah pembekalan teori di Hall, kegiatan dilanjutkan oleh acara praktek lapangan yang dipandu oleh Ketut Suastika dan Mastok Setyanto. dengan pelatihan lapangan di lahan sasaran yang memang tergolong sangat tandus. Di lokasi tersebut, para peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga belajar membaca kondisi lahan secara langsung: struktur tanah, potensi erosi, arah aliran air, serta titik-titik yang paling membutuhkan penanganan awal.

 

Pelatihan lapangan ini menjadi bagian penting karena pemulihan lahan kritis tidak dapat dilakukan hanya melalui konsep di atas kertas. Narasumber BLC memperkenalkan langkah-langkah awal penyiapan lahan, mulai dari pengenalan jenis bambu yang sesuai, penentuan titik tanam, pengelolaan air, hingga upaya memperbaiki kesuburan tanah secara bertahap.

Kehadiran peserta di lahan sasaran sekaligus menegaskan komitmen bersama: bahwa “Bamboo Forest North Bali” bukan sekadar nama kelompok, melainkan gerakan nyata untuk mengubah lahan yang tandus menjadi kawasan bambu yang hidup, produktif, dan bermanfaat bagi masyarakat Desa Dencarik. Dari sinilah diharapkan tumbuh bukan hanya tanaman bambu, tetapi juga harapan baru bagi ketahanan lingkungan dan ekonomi warga. (bas)

banner 336x280