Bagaimana Mengkonversi Lahan Pusat Kesenian Bali yang Terbengkalai Menjadi Hutan yang Produktif dan Bernilai?

banner 468x60

Denpasar (baliwananews.com) – Bali punya 391 DAS dengan total luas 5.636,66 km², 2.776,09 km panjang sungai, dan tekanan besar pada sistem airnya. Di saat yang sama, pemerintah juga menyoroti degradasi DAS Ayung dan banjir Bali sebagai sinyal rusaknya daya dukung lingkungan.

Kerusakan lingkungan Bali bisa dipetakan ke beberapa simpul utama. Alih fungsi lahan sawah dan ruang hijau masih berlangsung; salah satu laporan publik menyebut Bali kehilangan 6.521 hektare sawah pada 2019–2024, dan ada juga penyusutan hutan sekitar 459 hektare yang dianggap memperparah banjir dan stres lingkungan. Tekanan ini terkait langsung dengan menyusutnya daerah resapan dan meningkatnya limpasan air permukaan di wilayah sungai Bali.

Hal tersebut dikemukakan oleh Pemerhati lingkungan dan Ketua Yayasan Tamiang Bali, Nyoman Baskara di Denpasar, Rabu (30/7/2026)

Dari sisi air, Bali menghadapi kerentanan serius pada danau, sungai, dan air bersih. Danau Batur masuk daftar danau prioritas untuk pengendalian pencemaran nasional, sementara dokumen resmi wilayah sungai Bali-Penida menunjukkan jaringan DAS yang sangat padat dan rentan terhadap gangguan tata guna lahan. Menurut data dari BNPB juga menunjukkan bahwa kekeringan dan krisis air bersih di Bali sudah berdampak langsung pada warga di Karangasem.

“Kerusakan itu memunculkan beberapa ancaman besar. Pertama, banjir bandang, longsor, dan genangan kota karena kapasitas resapan turun dan DAS melemah. Kedua, krisis air bersih dan konflik pemanfaatan air karena sumber air permukaan dan air tanah semakin tertekan. Ketiga, penurunan produktivitas pertanian dan subak akibat alih fungsi lahan dan rusaknya tata air, yang pada gilirannya mengancam ketahanan pangan Bali.,” tutur Baskara.

Ancaman lain adalah degradasi ekosistem dan pariwisata. Bali sangat bergantung pada kualitas lanskap, air, dan citra ekologis; ketika danau, sungai, dan hutan rusak, maka biaya sosial-ekonomi naik, mulai dari banjir, air bersih, sampai turunnya daya tarik destinasi. Dalam konteks iklim, wilayah seperti Bali menjadi semakin rentan terhadap hujan ekstrem, kekeringan, dan ketidakpastian musim yang memperburuk tekanan pada tata air.

Lalu bagaimana menjadikan lahan Pusat Kesenian Bali yang terbengkalai sebagai koridor hutan produktif. Artinya, lahan itu tidak sekadar ditanami pohon, tetapi didesain untuk fungsi ganda: konservasi air, penahan banjir, penyerap karbon, edukasi lingkungan, dan hasil ekonomi terbatas yang legal. Komposisi tanam bisa dibuat bertingkat: pohon kanopi lokal, tanaman buah, bambu, tanaman obat, dan bawah tegakan yang sesuai dengan karakter lahan dan akses publik.

Skema produktifnya bisa memakai model hutan rakyat intensif atau agroforestry perkotaan. Hasilnya bukan kayu saja, melainkan buah, bibit, madu, tanaman herbal, kompos, jasa lingkungan, dan bahkan ruang ekowisata pendidikan. Dengan begitu, lahan yang tadinya idle berubah menjadi aset yang menjaga air sekaligus menciptakan nilai ekonomi dan sosial.

Pertama, audit lahan: status tanah, potensi genangan, akses air, jenis tanah, dan koneksi ke DAS terdekat. Kedua, restorasi hidrologi: sumur resapan, biopori, parit infiltrasi, kolam retensi kecil, dan pemulihan vegetasi. Ketiga, penanaman spesies lokal bernilai ekonomi dan ekologis, bukan tanaman seragam yang miskin fungsi.

Keempat, tata kelola harus melibatkan pemda, desa adat, subak, akademisi, dan komunitas. Kelima, buat skema pembiayaan campuran: APBD/APBN, CSR, kemitraan swasta, dan mekanisme jasa lingkungan. Keenam, pasang indikator yang mudah diukur: tutupan tajuk, debit baseflow, kualitas air, jumlah spesies, serapan karbon, dan pendapatan masyarakat.

Pulihkan lahan terbengkalai menjadi hutan produktif untuk memperkuat ketahanan air, mengurangi bencana, dan menahan laju degradasi ekologis Bali. Dukungan faktualnya: Bali punya 391 DAS yang sangat rentan, ada tekanan alih fungsi lahan dan penyusutan hutan, dan pemerintah sudah menyoroti degradasi DAS serta banjir sebagai masalah strategis. Dengan landasan itu, program ini tidak tampak sebagai penghijauan biasa, tetapi sebagai intervensi tata air dan ketahanan wilayah, pungkas Baskara. (hd)

banner 336x280

News Feed