Kuta (Baliwananews.com) Kelangkaan BBM jenis Pertamax di wilayah Bali selatan dalam beberapa hari terakhir memicu beragam keluhan dari masyarakat dan wisatawan. Kondisi ini dinilai turut menurunkan kualitas layanan destinasi wisata Bali, terutama karena distribusi BBM tidak berjalan lancar.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara, menegaskan bahwa Pertamina harus menjaga stabilitas suplai BBM untuk Bali sebagai destinasi internasional. “Pertamina jangan mainkan suplay BBM di Bali,” tegasnya, saat dikonfirmasi awak media di Kabupaten Badung, Senin, 17 November 2025.
Menurutnya, kelangkaan Pertamax telah dirasakan warga di sejumlah titik strategis.
Sejumlah SPBU di wilayah Denpasar dan Badung memasang tulisan BBM Kosong, termasuk di Jalan By Pass Ngurah Rai Jimbaran, By Pass Tuban, Sunset Road Kuta, Jalan Dewi Sri, Seminyak, hingga wilayah Gatot Subroto dan Buluh Indah Denpasar.
Situasi ini membuat masyarakat kecewa karena harus berpindah-pindah SPBU untuk mencari Pertamax. Banyak pengendara bahkan terpaksa beralih ke Pertalite demi bisa tetap melanjutkan perjalanan.
Puspa Negara menilai kondisi ini tidak semestinya terjadi, terutama mengingat Bali adalah destinasi wisata internasional yang sangat bergantung pada kelancaran transportasi. Ia menyebut, sungguh sangat disayangkan kondisi ini terjadi di Destinasi Bali yang seharusnya Pertamina sebagai pemegang kendali BBM memastikan Bali tidak mengalami gangguan distribusi sekecil apapun.
Keluhan juga muncul dari pelaku pariwisata, khususnya operator tour & travel yang armadanya menggunakan Pertamax. “Terkait kelangkaan Pertamax bagi wisman tentu membuat durasi waktu perjalanan wisman terhambat, karena kendaraan Tours & travel harus keliling mencari Pertamax,” ujarnya.
Puspa Negara menilai kondisi ini berpotensi mencoreng citra Bali. Hal ini menimbulkan potensi bahwa Pertamina turut menambah wajah buruk destinasi kita dalam beberapa hari terakhir.
“Dalam kondisi seperti ini harusnya pertamina bertanggungjawab untuk turut menjaga citra destinasi,” kata Puspa Negara.
Pada sisi lain, dirinya menilai penggunaan barcode untuk pembelian solar dan Pertalite kini makin menyulitkan di lapangan.
“Warga dan pelaku usaha sejatinya kurang ‘sreg’ dengan penggunaan barcode pada solar & Pertalite, sebaiknya penggunaan barcode dihapuskan saja,” terangnya.
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga telah menjelaskan bahwa gangguan suplai dipicu cuaca buruk.
Informasi yang disampaikan Manager Komunikasi, Relasi dan TJSL Pertamina Patra Niaga Jatim-Bali-Nusra, Ahad Rahedi, menyebut sedikitnya enam hambatan distribusi dialami akibat kondisi laut. “Cuaca buruk menjadi faktor utama yang menghambat distribusi,” jelasnya.
Distribusi ke wilayah Badung dialihkan sementara melalui Terminal BBM Manggis, Karangasem, sambil menunggu kapal pengangkut BBM bersandar di Terminal BBM Sanggaran. Kapal dijadwalkan membawa 2.000 kiloliter Pertamax pada 13 November 2025, disusul kapal kedua dengan muatan 9.000 kiloliter pada 14 November 2025.
“Secara pararel menunggu stok kapal, akan disalurkan 200 kiloliter Pertamax yaitu 100 kiloliter dari Terminal BBM Sanggaran dan 100 kiloliter alih suplai dari Terminal BBM Manggis,” ujarnya.
Pertamina memastikan seluruh fasilitas penyimpanan dan distribusi BBM di Bali beroperasi 24 jam. Namun, Puspa Negara mengingatkan agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menekankan bahwa faktor cuaca semestinya dapat diprediksi.
“Bali harusnya memiliki Cadangan Buffer stok BBM yang cukup dari berbagai varian BBM untuk antisipasi faktor cuaca dan kondisi post majeur lainnya,” tegasnya. (hd)
















