Denpasar (Baliwananews.com) – Serangan gabungan AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi, Iran Ali Khamenei, serta ratusan warga sipil. Iran membalas dengan rudal ke sejumlah negara Teluk dan mengancam menutup Selat Hormuz, memicu kekhawatiran eskalasi konflik regional dan krisis energi global.
Perang besar pecah setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan ke Iran pada Sabtu (28/2). Serangan menyasar ratusan target militer dan fasilitas strategis, termasuk kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Teheran.
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi Khamenei wafat dan menetapkan 40 hari masa berkabung nasional. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut Khamenei tewas saat bertugas dan menuding Washington serta Tel Aviv sebagai pihak yang bertanggung jawab. Presiden AS, Donald Trump, dan Perdana Menteri, Israel Benjamin, Netanyahu sebelumnya telah mengklaim kematian Khamenei.
Serangan juga menghantam sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan. Media pemerintah melaporkan sedikitnya 85 hingga 108 orang tewas di lokasi tersebut, meski angka itu belum diverifikasi independen. Secara keseluruhan, Bulan Sabit Merah Iran mencatat 201 orang meninggal dan 747 luka-luka di 24 provinsi terdampak.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan. Di Tel Aviv, satu warga tewas dan 20 lainnya terluka. Serangan juga menyasar Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, hingga Kuwait. Otoritas UEA menyatakan sebagian besar dari 137 rudal dan 209 drone berhasil dicegat. Puing drone sempat memicu kebakaran kecil di hotel ikonik Burj Al Arab, namun tanpa korban jiwa.
Iran turut memperingatkan penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Sementara itu, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk memfasilitasi dialog guna meredakan eskalasi.










