Denpasar (Baliwananews.com) – The Food and Drug Administration (FDA) mendeteksi kontaminasi radioaktif Cesium-137 pada cengkih asal Indonesia yang diekspor PT Natural Java Spice. Akibatnya, AS memblokir impor rempah dari perusahaan tersebut meski produk terkontaminasi belum masuk ke pasar. Pemerintah menurunkan tim investigasi dan menegaskan penanganan serius
Otoritas pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA), melaporkan temuan indikasi kontaminasi radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada cengkih asal Indonesia. Temuan ini menjadi pukulan bagi Indonesia yang selama ini dikenal sebagai produsen cengkih terbesar di dunia.
Berdasarkan pernyataan resmi FDA, zat radioaktif Cs-137 terdeteksi dalam sampel cengkih yang diimpor oleh PT Natural Java Spice. Akibatnya, FDA memutuskan untuk memblokir seluruh impor rempah-rempah dari perusahaan tersebut hingga ada bukti yang memadai bahwa masalah kontaminasi telah ditangani.
“Produk-produk dari PT Bahari Makmur Sejati dan dari PT Natural Java Spice tidak akan diizinkan memasuki pasar AS sampai perusahaan-perusahaan ini memberikan informasi kepada FDA untuk membuktikan secara memadai bahwa mereka telah mengatasi kondisi-kondisi yang menyebabkan munculnya pelanggaran,” demikian pernyataan FDA seperti dikutip dari situs resminya.
Amerika Serikat merupakan pasar penting bagi cengkih Indonesia. Data Trading Economics menunjukkan nilai impor cengkih AS dari Indonesia melonjak dari US$7,02 juta pada 2020 menjadi US$13,7 juta pada 2024. Lonjakan ini mencerminkan tingginya permintaan meski kini terancam oleh isu keamanan pangan.
PT Natural Java Spice tercatat telah mengekspor sekitar 200.000 kilogram cengkih ke AS sepanjang tahun ini. Meski FDA menegaskan bahwa tidak ada produk yang terkontaminasi yang telah sampai di rak supermarket, langkah pemblokiran ini berpotensi merusak reputasi Indonesia sebagai pemasok cengkih global.
Merespons temuan ini, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan pemerintah telah menurunkan tim untuk mendalami dugaan paparan Cs-137 pada cengkih. Rencana kunjungan lapangan ke PT Natural Java Spice akan segera dilakukan untuk memverifikasi kondisi dan mengambil langkah penanganan.
“Jadi pemerintah sangat memperhatikan serius isu ini, tidak main-main. Jadi selain keselamatan di dalam negeri, juga tentu berdampak kepada isu-isu perdagangan. Jadi kita menjaga betul ini, dengan sangat prudent, namun tidak menimbulkan kepanikan,” tegas Hanif.
Sebelumnya, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Penanganan Kerawanan Bahaya Radiasi Cs-137 setelah temuan serupa pada produk udang beku asal Indonesia. Kawasan Industri Modern Cikande di Serang, Banten, ditetapkan sebagai zona khusus radiasi setelah investigasi mengungkap aktivitas peleburan logam bekas di PT Peter Metal Technology (PMT) sebagai sumber pencemar.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menduga kontaminasi bisa berasal dari limbah industri logam atau peralatan medis lama yang didaur ulang. Meski level radiasi yang ditemukan dinyatakan rendah dan tidak langsung membahayakan kesehatan, paparan jangka panjang berisiko meningkatkan potensi kanker.
Indonesia memproduksi lebih dari 130.000 ton cengkih per tahun, menguasai sekitar 70% pasokan global. Dominasi ini kini diuji dengan munculnya isu kontaminasi radioaktif. Jika tidak ditangani dengan cepat, posisi Indonesia sebagai “raja cengkih dunia” terancam tergantikan oleh pesaing seperti Madagaskar, yang menyumbang 27% produksi global.
Kedepannya, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri diperlukan untuk memastikan rantai pasok cengkih bebas dari potensi kontaminasi, sekaligus memulihkan kepercayaan pasar internasional.










