Denpasar (baliwananews.com) – Menyikapi adanya wacana pembangunan mega proyek gas di Bali, diawali dengan rencana pembangunan Floating Storage and Regasification Unit Liquefied Natural Gas (FSRU LNG) atau terminal apung LNG di Perairan Serangan sabagai fasilitas pendukung untuk energi Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Aktivis Lingkungan dan Iklim 350.org, Suriadi Darmoko menilai, proyek LNG Bali akan menjadi ancaman nyata terhadap keberlanjutan Wellnes Tourism (wisata kebugaran) di Denpasar, khususnya wilayah Sanur, dikutip Jumat, 29 Mei 2026.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh pria yang akrab disapa Moko tersebut, saat diwawancarai langsung oleh Wartawan, lebih jauh ia menekankan bahwa selain menjadi ancaman bagi mata pencaharian masyarakat di Desa Serangan khususnya para nelayan karena adanya pemanfaatan ruang laut, keberadaan FSRU LNG juga menjadi kontradiksi terhadap keberlanjutan perjalanan pariwisata yang berfokus pada penyelarasan kesehatan, kesejahteraan fisik dan spiritual yang terkenal di Sanur.
“Rencana proyek LNG merupakan ancaman besar bagi peradaban masyarakat, lingkungan alam hingga pariwisata Bali kedepannya. Bagaimana tidak, saat ini Bali sudah dikepung oleh bencana hidrometeorolgi pasca berdirinya PLTU Celukan Bawang. Berdasarkan data, gas alam, minyak bumi dan batu bara adalah sumber energi yang paling bertanggung jawab terhadap perubahan iklim di Bali, kalau saja Pemprov Bali sadar akan dampaknya seharusnya mereka tak melanjutkan proyek (LNG, red) yang juga akan memanfaatkan kawasan mangrove sebagai jalur-jalur pipa gas raksasa ini kedepannya,” jelas Moko.
Terkait kontradiksi LNG terhadap keberlanjutan Wellnes Tourism di Sanur, Moko mengatakan “Mungkin ini akan menjadi satu kutipan yang menarik, Sanur ini kan akan dijadikan pariwisata wellnes, bagaimana kemudian wellnes tourism ini didekatkan dengan terminal LNG? Artinya ini kan menjadi kontradiksi, tadinya wisatawan ingin mencari ketenangan, berobat dan kenyamanan di Sanur tiba-tiba didekatkan dengan sumber masalah (FSRU LNG, red). Kebayang tidak bagaimana respon wisatawan yang mencari wellnes itu tiba-tiba dikasih pemandangan kapal-kapal tanker besar pengangkut gas alam cair? Jadi, saya melihat LNG akan lebih banyak merugikan sektor pariwasata Bali kedepannya,”
Bagi Moko, ancaman nyata di balik rencana pembangunan FSRU LNG akan berdampak secara langsung terhadap masa depan Bali, jika memang pemerintah terus memaksakan proyek ini tetap terus berjalan, dan ketika dampak bencana itu terjadi akibat pembangunan ini tentu pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari proyek LNG ini tidak ikut bertanggung jawab dan kembali lagi masyarakat yang akan menjadi korbannya. (gk/hd)
















