Nusadua (Baliwananews.com) — Di tengah sepinya Bali akibat pandemi COVID-19, sebuah karya justru lahir. Buku berjudul A Leaf of Bali, setebal sekitar 400 halaman, disusun selama dua setengah tahun dari Juli 2020 hingga akhir 2022 dengan satu misi besar yaitu memperkenalkan kembali Pulau Dewata kepada dunia, khususnya pasar China, dari sisi yang belum banyak terungkap.
Peluncuran buku A Leaf of Bali yang berkansung di Hotel Grand Mirage Tanjung Benoa, Sabtu (19/9/2026) ini juga dihadiri tokoh pariwisata Bali diantaranya Owner Bounty Crouise Gede Wirata, Owner COCO MART I Nengah Natyanta, Pemilik Kaos eksentrik Joger Joseph Theodorus Wulianadi atau yang biasa dipanggil Mr. Joger, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Bali saat ini adalah I Putu Winastra dan Ketua Indonesia Tionghoa (INTI) Provinsi Bali Dr. Agung Prianta.

Bukan sekadar panduan wisata biasa, A Leaf of Bali menampilkan cerita lengkap tentang Bali. Penulisnya tidak hanya membahas Ubud, Kuta, atau Legian, tetapi juga mengangkat destinasi-destinasi tersembunyi di berbagai kabupaten yang jarang diketahui wisatawan. Lebih dari itu, buku ini memuat kisah tokoh-tokoh pariwisata, pelaku usaha, hingga perempuan-perempuan inspiratif yang membangun kesuksesan mereka di Bali. Kekuatan Bali, sebagaimana ditampilkan dalam buku ini, bukan hanya pada keindahan alamnya, melainkan pada manusia, budaya, dan semangat kreativitas masyarakatnya.
“Kalau belum pernah ke Bali, saya berharap buku ini bisa menjadi inspirasi sehingga mereka ingin membeli tiket dan datang ke Bali. Kalau sudah pernah ke Bali, setelah membaca buku ini mereka ingin datang lagi dan lagi,” ujar penulis.
Keunikan lain yang ditawarkan adalah keragaman pengalaman yang bisa didapat dalam jarak tempuh yang relatif singkat. Dari mendaki Gunung Agung hingga menyelam di laut, dari ketenangan yoga di Ubud hingga kehidupan malam di Kuta, semua tersaji dalam satu pulau. Penulis juga menyusun informasi jarak tempuh antar destinasi, mulai dari 30 menit hingga tiga jam perjalanan, untuk membantu wisatawan merencanakan kunjungan mereka ke tempat-tempat yang belum terjamah pariwisata massal.
Lahirnya buku ini di masa pandemi bukan kebetulan. Justru saat pintu Bali tertutup, penulis memanfaatkan momen tersebut untuk mendokumentasikan dan menyusun narasi yang lebih mendalam. Fokus utamanya adalah pasar China, yang dinilai memiliki potensi besar untuk kembali menjadi salah satu penyumbang wisatawan terbesar bagi Bali. Namun, visi penulis tidak berhenti di situ versi bahasa Inggris sedang ditargetkan hadir tahun depan, sehingga pesan Bali dapat menjangkau pembaca secara lebih global.
“Menulis buku bukan hanya untuk mencari profit atau menjual buku. Harus ada inspirasi. Harus ada cinta terhadap tempat yang kita tulis,” tegas penulis yang bahkan menolak tawaran menulis tentang Jakarta karena merasa belum cukup mengenal kota tersebut. Kecintaan itulah yang membuat proses penulisan berjalan lama namun mendalam, tanpa terburu-buru mengejar target komersial semata.
Ke depannya, rencana penulis semakin luas. A Leaf of Bali diharapkan menjadi awal dari seri yang lebih besar, termasuk gagasan Bali and Beyond yang akan memperluas liputan hingga ke Lombok dan Nusa Tenggara Barat. Nama “Leaf” sendiri bukan tanpa makna melambangkan sesuatu yang hidup, tumbuh, dan menjadi bagian dari pohon besar bernama Bali. Sebuah simbol bahwa buku ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang terus tumbuh dan berkembang di pulau ini.
Pada akhirnya, A Leaf of Bali adalah sebuah undangan terbuka, bahwa Bali bukan sekadar tempat singgah, melainkan sebuah pengalaman yang menyatu. Melalui halaman-halamannya, penulis ingin dunia memahami satu hal sederhana namun mendalam bahwa selalu ada alasan baru untuk kembali ke Bali.
Tokoh Pariwisata Agung Prianta yang juga Ketua INTI Bali mengatakan bahwa sebuah buku versi terbaru yang disusun oleh platform bernama Ye Lu hadir membawa angin segar bagi promosi pariwisata Bali. “Hal yang membuat buku ini istimewa bukan sekadar informasi terbaru, melainkan sudut pandang yang belum banyak diangkat oleh publikasi lain. Ye Lu, yang juga seorang jurnalis asal Tiongkok, menghadirkan narasi mendalam hasil wawancara langsung dengan tokoh-tokoh kunci di Bali,” terangnya.
“Selama ini, Bali sering kali hanya diangkat dari satu sisi, misalnya dari aspek seni. Namun Ye Lu memiliki hubungan personal dengan berbagai tokoh Bali, sehingga isi bukunya menjadi lebih unik dibandingkan buku panduan wisata yang sudah ada.”
Buku ini disusun pada masa pandemi COVID-19, sebuah momen yang justru membuka ruang lebih luas untuk mendengarkan cerita secara mendalam.
Menurut Agung Prianta, Miss Ye Lu menulis buku ini dengan mengangkat berbagai hal dari perspektifnya sendiri. Sebagai seorang penulis, ia membahas sejumlah hal yang mungkin belum banyak dibahas oleh orang lain.
“Salah satunya adalah kisah dan pandangan dari banyak tokoh Bali yang diwawancarai. Saat itu, mungkin masih dalam masa pandemi COVID-19, sehingga akses untuk bertemu dan melakukan wawancara relatif lebih mudah. Tokoh-tokoh yang diwawancarai antara lain Debora, pembuat film Bali Nale, dan Pak Wewe, yang mengembangkan atau memperkenalkan Kopi Bali,” kata Agung.
Dengan latar belakangnya sebagai jurnalis Tiongkok, Ye Lu menghadirkan narasi yang lebih dekat dengan selera dan pemahaman pembaca asal Tiongkok. Buku ini tidak sekadar berisi informasi wisata standar, melainkan kisah nyata di balik produk, budaya, dan masyarakat Bali, sesuatu yang sulit ditemukan di buku panduan biasa.
Buku ini membantu mempromosikan Bali, khususnya kepada masyarakat Tiongkok. Yellow sendiri merupakan jurnalis asal Tiongkok, sehingga ia dapat memperkenalkan Bali kepada pembaca dan kelompok wisatawan Tiongkok dari perspektif yang lebih dekat dengan mereka.
“Tentu saja buku ini berkontribusi besar. Ia memperkenalkan Bali kepada masyarakat Tiongkok dari sudut pandang yang lebih personal, lebih dalam, dan lebih autentik,” pungkas Agung. (hd)
















