Tanjung Benoa (Baliwananews.com) — Prospek pariwisata Bali dinilai tetap optimistis. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tingginya tingkat hunian akomodasi, hingga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi bukti bahwa Pulau Dewata tetap menjadi destinasi yang dipercaya dunia. Meski demikian, optimisme ini harus disertai dengan pengelolaan yang berkualitas, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat lokal.
Hal itu disampaikan oleh tokoh pariwisata sekaligus pemilik jaringan ritel Coco Mart (PT Bali Pawiwahan), I Nengah Natyanta disel-sela Peluncuran buku A Leaf of Bali yang berkansung di Hotel Grand Mirage Tanjung Benoa, Sabtu (19/9/2026) pada Sabtu (19/9/2026).
Menurut Natyanta, kebutuhan masyarakat untuk berlibur akan terus tumbuh seiring dengan membaiknya perekonomian. Bali sendiri telah lama menjaga posisinya sebagai ikon pariwisata dunia yang tak tergantikan.
“Bali tetap memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi ikonik dan dikenal dunia sebagai ‘Paradise Island’.”
Namun di balik optimisme itu, tantangan juga semakin nyata. Persaingan antar destinasi semakin ketat, dan semakin terbukanya peluang bagi pelaku usaha asing di Bali menuntut kewaspadaan sekaligus kemampuan beradaptasi dari pelaku usaha lokal.
Pertumbuhan bisnis ritel yang dikelolanya mencapai sekitar 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sebuah angka yang tidak tercapai tanpa strategi yang tepat.
“Selalu inovasi terhadap pasar, karena pasar terus berubah. Pengalaman sebelum pandemi, saat pandemi, hingga setelah pandemi memberi kami pelajaran berharga, bagaimana membangun SDM yang tangguh, efisiensi operasional, dan cara membaca perubahan perilaku konsumen.”
Kini jaringan Coco Mart telah mencakup sekitar 85 gerai dan terus berekspansi. Natyanta melihat peluang pasar masih terbuka lebar, baik di pusat keramaian wisata maupun kawasan baru seperti Tanah Lot yang terus berkembang pesat.
Menurutnya, Ekspansi ke luar Bali juga dilakukan dengan strategi yang berbeda. “Operasional ritel di luar Bali memiliki karakter berbeda karena lebih menyasar kebutuhan masyarakat lokal, seperti minuman, rokok, makanan ringan, dan kebutuhan sehari-hari.”
Keunggulan utama Bali menurutnya tetap berada pada satu hal yang sulit ditiru daerah lain: budaya pelayanan yang sudah mendarah daging.
“Bali itu sudah terbiasa melayani tamu dengan hangat, itu bukan sekadar pelayanan, tapi budaya. Inilah yang menjadi keunggulan terbesar kita.”
Di tengah arus perubahan yang tak kunjung berhenti, Natyanta menegaskan satu pesan yang paling mendasar:
“Kreativitas itu sangat penting juga di dalam persaingan pariwisata. Apa pun pekerjaan itu, kita tidak boleh diam, harus berkreasi terus.”
Pariwisata Bali tetap cerah, tetapi kemaslahatannya di masa depan bukan ditentukan oleh apa yang dimiliki hari ini, melainkan oleh seberapa mampu kita berinovasi, beradaptasi, dan berbagi manfaat dengan masyarakat luas. (hd)
















