Heat Stroke vs Heat Exhaustion: Penyakit Akibat Suhu Panas

banner 468x60

Denpasar – baliwananews.com | Ibadah haji di Arab Saudi telah mengakibatkan ratusan kematian akibat kelelahan panas dan peningkatan suhu tubuh. Penyakit yang berhubungan dengan panas, seperti sengatan panas, dapat menimbulkan gejala seperti berkeringat, pilek, kulit pucat, dan demam. Heat exhaustion panas adalah reaksi terhadap hilangnya garam dan udara secara berlebihan, sedangkan heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuannya untuk mengatur suhu.

Puncak ibadah haji baru saja selesai pada hari Jumat tanggal 14 Juni 2024 sesuai tanggal 8 Dzulhijjah 1445 H, dan dilaporkan bahwa ratusan jemaah haji tewas akibat panas terik. Selain itu, ratusan jemaah lainnya juga membutuhkan perawatan intensif. Suhu dilaporkan mencapai 51 derajat Celcius. Jumlah korban meninggal dunia pada tahun ini. Lebih dari 150 jemaah asal Indonesia juga kehilangan nyawa saat menunaikan ibadah haji di Arab Saudi.

Tentu saja cuaca panas menjadi masalah bagi jamaah haji, khususnya generasi tua yang selalu menjadi mayoritas jamaah haji. Dalam dunia medis, kondisi yang terjadi ini disebut sebagai Heat-related illness dengan perjalanan penyakit yang paling parah disebut Heat stroke.

Dilansir oleh John Hopkins Medicine, Heat-related illness didefinisikan sebagai kumpulan gejala yang disebabkan oleh peningkatan suhu tubuh (hipertermia) yang dapat timbul akibat paparan suhu dan kelembapan yang sangat tinggi atau berkepanjangan tanpa tindakan pendinginan yang tepat atau hidrasi yang tepat. Dibandingkan orang dewasa, anak-anak dan lansia beradaptasi lebih lambat terhadap perubahan panas lingkungan. Selain menghasilkan lebih banyak panas saat beraktivitas dibandingkan orang dewasa, mereka juga lebih sedikit berkeringat. Berkeringat merupakan proses pendinginan alami tubuh. Berkeringat merupakan suatu respons tubuh terhadap suhu panas dengan tujuan untuk menurunkan suhu sehingga keseimbangan fungsi dan metabolisme tubuh dapat terjaga. Sehingga jika proses ini terganggu, maka proses pengeluaran panas tubuh juga akan terganggu yang menyebabkan suhu tubuh tetap tinggi (hipertermia).

Terdapat dua kondisi berbeda yang penggunaan istilahnya sering tertukar yaitu Heat stroke dan Heat exhaustion. Dilansir oleh Centers for Disease Control and Prevention, Heat exhaustion didefinisikan sebagai Reaksi tubuh terhadap kehilangan garam dan air secara berlebihan—biasanya akibat keringat yang banyak—adalah kelelahan akibat panas. Sedangkan Heat stroke merupakan suatu kondisi yang terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan untuk mengatur suhunya, menyebabkan tubuh cepat panas, berhenti berkeringat, dan tidak mampu mendinginkan diri. Suhu tubuh mungkin meningkat hingga 40°C atau lebih dalam 10 hingga 15 menit saat serangan panas menyerang. Jika perawatan darurat tidak diberikan, serangan panas dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan permanen.

Dilansir oleh Centers for Disease Control and Prevention, Tanda-tanda orang yang sedang mengalami Heat exhaustion adalah:
Berkeringat banyak
Kulit dingin, pucat, dan lembap
Denyut nadi cepat dan lemah
Mual atau muntah
Kram otot
Kelelahan atau kelemahan
Pusing
Sakit kepala
Pingsan (pingsan)
Di sisi lain, Tanda-tanda orang yang sedang mengalami Heat stroke adalah:
Suhu tubuh tinggi (40°C atau lebih tinggi)
Kulit panas, merah, kering, atau lembap
Denyut nadi cepat dan kuat
Sakit kepala
Pusing
Mual
Tampak kebingungan
Kehilangan kesadaran (pingsan)
Dari kedua kondisi tersebut, memang heat exhaustion memiliki risiko kematian yang lebih rendah jika dibandingkan dengan heat stroke, namun kedua kondisi ini tetap memiliki potensi untuk mengancam nyawa. Oleh karena itu, pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada orang yang mengalami heat-related illness baik itu heat stroke ataupun heat exhaustion adalah:
Pindah ke tempat yang sejuk
Kendurkan pakaian
Letakkan kain dingin dan basah di tubuh atau mandi air dingin
Minumlah air
Segera cari pertolongan medis

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *