Gianyar (baliwananews.com) – Kuliner paling dinanti di Bali resmi dibuka di Taman Kuliner Ubud, menghadirkan para chef, petani, produsen artisan, kreator makanan, penulis, dan pecinta kuliner dalam perayaan selama empat hari pada 28-31 Mei 2026.

Memasuki tahun ke-11, Festival kembali hadir dengan tema Farmers: Guardians of Land and Sea, merayakan para sosok yang menjaga keberlangsungan pangan, dari petani hingga pelaku kuliner. Selama empat hari, pengunjung dapat menikmati Demo Masak, Food Talks Special Events, Chef’s Table, Masterclass, serta Food Market gratis dengan lebih dari 70 tenant yang untuk pertama kalinya dibuka selama empat hari penuh.

Salah satu bintang internasional tahun ini adalah chef pastry asal Australia, Kate Reid, Founder Lune Croissanterie di Melbourne dan mantan aerodynamicist Formula 1. Kroisan buatannya bahkan disebut The New York Times sebagai yang terbaik di dunia. Di Indus, Reid akan hadir dalam sesi bintang santai sebelum bergabung sebagai juri bersama Chef Tedjo dari Fas.a. Fas dan chef bakery asal Prancis Jean-Marie Lanio untuk memilih Best Croissant in Bali.
Penghargaan tertinggi Festival, Lifetime Achievement Award, diberikan kepada pegiat gastronomi Indonesia Helianti Hilman atas dedikasinya selama puluhan tahun mendukung petani, peramu pangan liar, dan produsen pangan tradisional hingga membawa warisan kuliner Indonesia ke panggung dunia. “Makanan selalu lebih dari sekadar sumber nutrisi,” ujar Helianti. “Di dalamnya ada ingatan, identitas, dan pengetahuan lintas generasi. Saya berharap penghargaan ini membuat semakin banyak orang menghargai para petani dan peramu pangan yang telah menjaga warisan ini sepanjang hidup mereka.”
“Festival ini selalu berdiri atas keyakinan bahwa makanan adalah sesuatu yang melampaui apa yang tersaji di atas piring, dan tidak ada sosok yang lebih merepresentasikan hal itu selain Helianti Hilman,” ujar Founder dan Director Janet DeNeefe. “Sangat sedikit orang yang telah melakukan begitu banyak untuk melindungi petani, peramu pangan, dan warisan pangan biokultural Indonesia. Karyanya secara perlahan telah membentuk cara dunia memahami kuliner Indonesia. Kami merasa terhormat dapat memberikan penghargaan atas kontribusi tersebut.”
Helianti Hilman akan membawa semangat tersebut ke meja makan di Bambu Indah, bersama Chef Agus Hermawan, Chef Aaron Lumakeki, dan Puan Rimba, kolektif perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat, dalam jamuan makan panjang yang menghormati pengetahuan pangan leluhur dan tradisi kuliner masyarakat adat.
Menu yang dihadirkan memanfaatkan bahan-bahan liar dan teknik memasak yang mulai terlupakan, mulai dari ikan sungai yang dipanggang di atas api hingga dedaunan dan rempah hutan yang jarang ditemui di atas piring.
Tahun ini, program Food for Thought menempatkan para sosok yang menanam, menjaga, dan membentuk masa depan pangan Indonesia sebagai pusat percakapan. Wali Kota Padang Fadly Amran memaparkan upaya Padang menuju pengakuan UNESCO City of Gastronomy pada 2027, sementara pelopor pertanian organik Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, agripreneur Yeni Aspin, dan Agung Wedha menghadirkan kisah tanpa polesan tentang kehidupan di tanah pertanian. Berkolaborasi dengan TikTok, kreator konten Vanessa Budihardja-Barus dan ecopreneur Dian Sonnerstedt juga membahas semakin besarnya pengaruh storytelling digital dalam membentuk cara kita memahami dan mengonsumsi makanan. Informasi letbih lanjut mengenai kemitraan TikTok dapat dilihat di bawah.
Di luar panggung diskusi, Festival juga menjadi ruang eksplorasi rasa dan penemuan baru.
Program Masterclass menghadirkan beragam praktik kuliner, mulai dari Bale Nagi: Brewing the Taste of Flores yang mengolah kembali gaya bir melalui hasil bumi Nusa Tenggara Timur hingga fotografer makanan Ade Ardhana yang membagikan teknik membangun storytelling melalui lensa. Pada sesi Chef’s Table, Ben Devlin dari Byron Bay dan Simon Polkinghorne dari Masonry Canggu menghadirkan ikan yang dipres di atas kertas, api pesisir, dan demonstrasi memasak langsung yang mempertemukan dua dapur dalam satu menu kolaboratif membentuk masa depan pangan Indonesia sebagai pusat percakapan. Wali Kota Padang Fadly Amran memaparkan upaya Padang menuju pengakuan UNESCo City of Gastronomy pada 2027, sementara pelopor pertanian organik Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, agripreneur Yeni Aspin, dan Agung Wedha menghadirkan kisah tanpa polesan tentang kehidupan di tanah pertanian. Berkolaborasi dengan TikTok, kreator konten Vanessa Budihardja-Barus dan ecopreneur Dian Sonnerstedt juga membahas semakin besarnya pengaruh storyteling digital dalam membentuk cara kita memahami dan mengonsumsi makanan. Informasi lebih lanjut mengenai kemitraan TikTok dapat dilihat di bawah. Di luar panggung diskusi, Festival juga menjadi ruang eksplorasi rasa dan penemuan baru.
Program Masterclass menghadirkan beragam praktik kuliner, mulai dari Bale Nagi: Brewing the Taste of Flores yang mengolah kembali gaya bir melalui hasil bumi Nusa Tenggara Timur hingga fotografer makanan Ade Ardhana yang membagikan teknik membangun storytelling melalui lensa. Pada sesi Chef’s Table, Ben Devlin dari Byron Bay dan Simon Polkinghorne dari Masonry Canggu menghadirkan ikan yang dipres di atas kertas, api pesisir, dan demonstrasi memasak langsung yang mempertemukan dua dapur dalam satu menu kolaboratif.
Sementara itu, di panggung Teater Kuliner, bintang TikTok Venithya Calista dan pemenang MasterChef Indonesia Jesselyn Lauwreen merayakan budaya lalap Indonesia melalui nYa. Curry mendenonton. Chef Glenn Erari dari SEMA. JA melenoenleg asiwari dan Ikan Tuan pangan khas Indonesia Timur melalui sajian Roti Abon dari l Manokwari
bahan n Tuns Gohu dari Ternate.
Saat malam tiba, Festival menjadi ruang bagi kata-kata dan musik sama besarnya dengan makanan. Tidak boleh dilewatkan, R.A.P. Party yang didirikan penyair peraih penghargaan Inua Ellams bersama sepuluh ahli spoken word menghadirkan perpaduan antara pembacaan puisi dan listening party, lebih menyerupai pesta rumah daripada malam sastra, di mana kata-kata bergerak mengikuti tubuh dan dentuman musik, dan penonton menjadi bagian dari ritme. Chef Bernard menutup demonstrasi memasaknya dengan berpindah ke balik meja DJ, membawa suasana dari ruang makan menuju lantai dansa.
“Festival tahun ini menjadi pengingat tentang makna sesungguhnya dari makanan: tanah, manusia, dan pengetahuan yang menghubungkan keduanya. Dari penjaga hutan dan petani organik hingga chef kelas dunia dan penyair spoken word, program tahun ini mencerminkan kedalaman dan keberagaman budaya pangan Indonesia dengan cara yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Empat hari, satu meja, dan kami tidak sabar untuk membagikannya kepada semua orang,” tutup Janet DeNeefe.
Festival menggelar konferensi pers di Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud, pada Kamis, 28 Mei, yang dihadiri oleh Founder dan Director Ubud Food Festival Janet DeNeefe, penerima Lifetime Achievement Award tahun ini Helianti Hilman, serta sejumlah tamu undangan lainnya. (hd)
















