Catatan Bulan Bung Karno 2026: “Pendidikan Ala Barat Dan Kesadaran

banner 468x60

Gianyar (baliwananews.com) – Bulan Bung Karno adalah sebutan untuk bulan Juni. Periode ini diperingati setiap tahunnya di Indonesia untuk menghormati jasa dan pemikiran Ir. Soekarno, sang Proklamator.

Alasan bulan Juni sangat identik dengan Bung Karno adalah karena adanya tiga peristiwa penting yang berkaitan langsung dengan kehidupannya:

1. 1 Juni 1945: Hari Lahir Pancasila, di mana Soekarno menyampaikan pidato monumental mengenai dasar negara.
2. 6 Juni 1901: Tanggal kelahiran Bung Karno.
3. 21 Juni 1970: Tanggal wafatnya Bung Karno.

Sesuatu yang jarang dibahas tentang pemikiran-pemikirannya adalah darimana sebenarnya pemikiran Bung Karno itu berasal khususnya di bagian akademis?

Berikut adalah riwayat pendidikan lengkap Bung Karno:

Sekolah Dasar: Eerste Inlandse School di Mojokerto dan Europeesche Lagere School (ELS) di Mojokerto (serta sempat bersekolah di Hollands Inlandse School [HIS]).

Sekolah Menengah Atas: Hogere Burger School (HBS) di Surabaya.

Pendidikan Tinggi: Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB).

Jika melihat latar belakang pendidikan Bung Karno terlihat jelas bahwa ia bersekolah di sekolah yang didirikan oleh Hindia Belanda dengan kurikulum Hindia Belanda dan bukan pendidikan politik atau hukum tetapi adalah teknik sipil yang sebenarnya jauh dari kesan perpolitikan atau negarawan maupun sebuah kekuasaan.

Maka setelah mengetahui latar pendidikannya, patut kita bertanya dari mana sebenarnya sang proklamator memiliki pengetahuan untuk memikirkan bangsanya dan berkorban bagi bangsanya serta terlihat seperti ” tidak nyambung” dengan pendidikan akademisnya.

Semua terjadi ketika Masa Pergerakan Nasional , ditulis dalam “Buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat”.

Soekarno untuk pertama kalinya menjadi terkenal ketika dia menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya pada tahun 1915. Bagi Soekarno sifat organisasi tersebut yang Jawa-sentris dan hanya memikirkan kebudayaan saja merupakan tantangan tersendiri.

Dalam rapat pleno tahunan yang diadakan Jong Java cabang Surabaya, Soekarno menggemparkan sidang dengan berpidato menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar).

Sebulan kemudian dia mencetuskan perdebatan sengit dengan menganjurkan agar surat kabar Jong Java diterbitkan dalam bahasa Melayu saja, dan bukan dalam bahasa Belanda.

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan pada tahun 1927.

Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada 29 Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy.

Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin dan di pengadilan Landraad Bandung 18 Desember 1930 ia membacakan pleidoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada 31 Desember 1931.

Pada Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.

Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu, ia baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memerhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk “mengamankan” keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.

Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memerhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh-tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H. Mas Mansyur, dan lain-lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif.

Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Soekarno, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa “meski sebenarnya kita bekerja sama dengan Jepang, sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri”.

Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945, dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut.

Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri.

Pada Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.

Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang, antara lain dalam kasus romusha.

Sikap Bung Karno : Pendidikan Ala Barat Dan Kesadaran Kebangsaan Untuk Kekinian

Pendidikan Bung Karno yang sebenarnya ditanamkan oleh Hindia Belanda dimana pola pendidikan dan metode pendidikan serta pemahamannya lebih kepada pemahaman-pemahaman Barat ternyata juga dialami oleh tokoh-tokoh yang lain seperti Muhammad Hatta yang juga bersekolah di luar negeri dengan pemahaman dan kurikulum Barat. Namun pada akhirnya mereka mampu untuk mengkonversi pemikiran Barat menjadi kesadaran kebangsaan untuk memerdekakan Indonesia dan pada akhirnya berkorban demi bangsa dan negaranya demi persatuan Indonesia demi kesejahteraan sosial Indonesia.

Mengacu kepada pemahaman sang proklamator ini tentunya kita harus merefleksikan diri pemahaman-pemahaman Barat yang terjadi di Indonesia apakah saat ini sudah dilandasi dengan kesadaran kebangsaan untuk pengorbanan kepada Indonesia atau justru sebenarnya kita menjalankan pemahaman Barat yang tidak sesuai dengan kebangsaan kita?

Indonesia adalah negara majemuk dengan berbagai suku adat dan budayanya yang membentang dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote artinya kemajemukan ini benar-benar perlu diperhatikan sebagai akar dari wawasan kebangsaan itu tersendiri.

Wawasan kebangsaan itu terpola dalam Pancasila yang dibuat oleh pendiri bangsa dimana musyawarah mufakat adalah cara pengambilan keputusan utama melalui keterwakilan bukan secara pemungutan suara langsung.

Namun kemudian krisis 98 jatuhnya Soeharto telah menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang dikenal dengan demokrasi yang terbesar di dunia pada akhirnya konstitusi pun dirubah dengan ditambahkannya butir-butir HAM, kesetaraan gender, lalu diciptakannya undang-undang pers yang mana setiap insan di negara Indonesia itu berhak untuk menyampaikan pendapat walaupun itu pribadi dan sangat-sangat privat. Pemahaman-pemahaman barat kemudian masuk melalui LSM , NGO dan kemudian sampai menyentuh kepada sendi-sendi terkecil masyarakat.

Bahkan dengan sikap kritis masyarakat, LSM-LSM ataupun NGO yang ada dapat menyampaikan pendapatnya dengan keras kepada siapapun pemerintahannya ataupun kepada siapapun presidennya.

Memahami situasi demikian ada refleksi yang harus kita lihat bahwa sebenarnya dari awal kemerdekaan kita yang perlu diperhatikan adalah sebenarnya kita melawan pemahaman-pemahaman Barat yang ingin merongrong kebangsaan kita. Entah itu melalui peraturan-peraturannya, entah itu melalui pemahaman-pemahamannya, entah itu devide at impera nya maupun imperialisme ataupun invasinya.

Disinilah kita perlu kembali melihat jejak-jejak sang proklamator khususnya Soekarno yang secara latar pendidikan ia mendapat pendidikan ala barat tetapi dalam pengalaman hidupnya akhirnya ia kembali berjuang dengan kebersatuan untuk bangsanya. Pemahaman-pemahaman akademisnya justru ia gunakan untuk persatuan Indonesia.

Pengalaman hidup Sang Proklamator hendaknya perlu kita terapkan saat ini agar kebersatuan itu kita jaga walaupun dengan akses media yang tanpa batas, pemahaman-pemahaman asing dan luar negeri itu masuk langsung ke telinga kita tanpa ada filter apapun tapi dengan kesadaran kebangsaan kita tidak dapat dipecah belah sebagai sebuah bangsa sehingga perdebatan yang dapat menjerumuskan negara kita dalam kehancuran karena perpecahan dapat dihindari juga dapat dihilangkan.

banner 336x280