Banjir Bandang Sumbar Telan 52 Korban Jiwa, Indonesia Kembali Berduka

Nasional14 Views
banner 468x60

Denpasar (baliwananews.com) – Banjir bandang, lahar dingin, dan juga tanah longsor telah terjadi selama sejak 4 hari yang lalu di Sumatera Barat. Sebanyak 52 orang ditemukan meninggal, 27 orang dilaporkan hilang, dan 37 orang luka-luka. Pengungsi total sampai saat ini adalah sekitar 3.396 jiwa. Saat ini, masyarakat diminta untuk waspada terhadap berbagai perubahan alam, dan pemerintah telah menetapkan masa tanggap darurat bencana selama 14 hari.

Banjir bandang dilaporkan telah melanda beberapa daerah di Sumatera Barat, mulai Sabtu (11/05) hingga Minggu (12/05). Sampai saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa 52 orang ditemukan meninggal dunia. Bukan hanya itu saja, sebanyak 27 orang belum ditemukan, 37 orang luka-luka, dan total sekitar 3.396 jiwa sudah mengungsi. Data ini diperkirakan masih terus bertambah, dengan masih terus dilakukannya pencarian korban hilang dan juga pendataan yang masih terus dilakukan di lapangan. Bencana yang terjadi ini menyebabkan dampak yang cukup parah pada empat kabupaten, yaitu Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Padang Panjang, dan Kabupaten Padang Pariaman.

Banjir bandang yang terjadi berasal dari curah hujan tinggi yang selama beberapa hari belakangan di Sumatera Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun telah mendeteksi adanya pola sirkulasi siklonik yang ada di daerah Aceh sebelah barat dalam sepekan ini. Kondisi banjir bandang yang terjadi juga ditambah dengan adanya curah hujan yang membasahi puncak Gunung Marapi, sehingga material vulkanis juga turun dan menjadi banjir lahar dingin. Banjir lahar dingin yang terjadi ini karena adanya erupsi beberapa waktu yang lalu di Gunung Marapi. Material lahar kemudian mengendap di lereng bagian atas gunung dan turun bersamaan dengan air hujan. Tak hanya itu saja, pada beberapa titik pun banyak terjadi tanah longsor.

Dampak banjir bandang yang terjadi ini akhirnya membuat pemerintah menetapkan masa tanggap darurat bencana hingga 25 Mei 2024 (14 hari). Banjir bandang, lahar dingin, dan juga tanah longsor ini mengakibatkan banyak kegiatan dan pekerjaan masyarakat sekitar merugi dan terpaksa terhenti. Banjir ini juga menyebabkan bendungan air mengalami kerusakan, aliran irigasi, lahan pertanian, dan kerusakan lainnya pada sarana dan prasarana untuk masyarakat. Masyarakat akhirnya kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal. Pemerintah menghimbau agar masyarakat selalu waspada akan berbagai perubahan lingkungan yang terjadi dan selalu menjaga diri.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *