Denpasar (Baliwananews.com) — Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali mengukuhkan 638 lulusan dalam Wisuda XXXII pada 22 Oktober 2026, dengan tema “Navigating the Future of Tourism: Harmonising Heritage and Sustainability.” Momentum tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk mendorong pengembangan pendidikan pariwisata yang lebih berkelanjutan dan berakar pada kearifan lokal.
ok
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan apresiasi kepada wisudawan, keluarga, dan sivitas akademika Poltekpar Bali. Ia menegaskan bahwa lulusan diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan, memperkuat daya saing destinasi Indonesia, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi posisi yang diraih, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat saudara hadirkan bagi masyarakat,” ujar Menteri Pariwisata.
Pariwisata Indonesia Terus Tumbuh
Menteri Pariwisata menyampaikan sejumlah capaian yang menjadi modal pengembangan pariwisata nasional. Kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025 mencapai 15,39 juta, tumbuh 10,80 persen, sementara perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar, meningkat 17,55 persen.
Pada Januari–Agustus 2026, kunjungan wisman tercatat 10,58 juta atau tumbuh 5,38 persen. Devisa pariwisata 2025 mencapai 18,27 miliar dolar AS, sementara realisasi investasi pariwisata tumbuh 56,05 persen menjadi Rp73,56 triliun pada tahun yang sama.
Sektor pariwisata juga menyerap 25,91 juta tenaga kerja pada 2025 dan menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Indonesia juga naik ke peringkat kedua dunia dalam Global Muslim Travel Index 2026 serta meraih 311 penghargaan internasional dalam dua tahun terakhir.
Gagasan Prodi Wisata Agro
Di tengah pertumbuhan pariwisata, muncul gagasan pembentukan Program Studi Wisata Agro di Poltekpar Bali sebagai upaya menjembatani sektor pariwisata dan pertanian. Gagasan ini dinilai mendesak mengingat regenerasi petani di Bali masih menjadi tantangan, sementara banyak generasi muda memilih berkarier di sektor pariwisata.
Penggagas inisiatif tersebut menilai pariwisata dan pertanian seharusnya tidak berjalan terpisah. Melalui Prodi Wisata Agro, lulusan diharapkan menguasai teknologi pertanian modern sekaligus memahami kebutuhan industri pariwisata, sehingga dapat menjadi penghubung antara petani dan sektor wisata.
Konsep ini terinspirasi dari praktik di Jepang dan Taiwan, di mana kawasan pertanian modern berbasis teknologi seperti Internet of Things dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif. Generasi muda tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga pengelola dan inovator.
Penerapan konsep corporate farming juga diusulkan agar lahan pertanian dikelola secara profesional, memiliki nilai ekonomi berkelanjutan, dan menjadi mitra strategis industri pariwisata. Dengan demikian, alih fungsi lahan pertanian dapat dicegah.
“Pariwisata dan pertanian tidak harus saling meniadakan. Bali berkembang bukan dengan meninggalkan ladangnya, melainkan dengan menjadikan ladang itu bagian dari keindahannya,” ujar penggagas gagasan tersebut.
Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Menteri Pariwisata menekankan pentingnya menjunjung filosofi Tri Hita Karana dalam pembangunan pariwisata Bali, yaitu keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Prinsip ini menjadi landasan agar pertumbuhan pariwisata tetap selaras dengan pelestarian budaya dan lingkungan.
Pembentukan Prodi Wisata Agro diharapkan memperkuat arah tersebut: menghasilkan SDM pariwisata yang kompeten, berdaya saing global, sekaligus mampu menjaga keberlanjutan pertanian dan kehidupan masyarakat lokal di Bali. (bas)










